JAKARTA Sebuah varian baru Covid-19, yang dijuluki "Cicada", kini tengah menjadi sorotan. Varian dengan kode BA.3.2 ini dilaporkan sedang meluas penyebarannya di Amerika Serikat. Tak hanya di sana, jejaknya mulai terdeteksi pula di berbagai belahan dunia.
Menurut laporan CDC yang dirilis Senin (30/3/2026), hingga pertengahan Februari lalu, varian ini sudah ditemukan di sedikitnya 25 negara bagian AS. Padahal, kemunculan pertamanya tercatat setahun yang lalu, berkembang dengan perlahan dan tanpa banyak gembar-gembor.
Lantas, seberapa berbahayakah Cicada ini bagi kita?
Prof Andrew Pekosz, seorang ahli virologi ternama dari Johns Hopkins, memberikan penjelasan. Menurutnya, varian BA.3.2 ini membawa perubahan genetik pada protein spike-nya. Perubahan itulah yang diduga membuat virus jadi lebih mudah menular dari orang ke orang.
"Secara teori memang terlihat menakutkan," aku Pekosz, "tetapi di sebagian besar tempat, hal itu belum memberikan dampak besar dalam hal penyebaran penyakit."
Di sisi lain, kekhawatiran lain muncul. Kemunculan Cicada berpotensi mengikis perlindungan yang diberikan oleh vaksinasi sebelumnya. Artinya, risiko penularan bisa meningkat, terutama pada kelompok yang belum divaksinasi sama sekali. Karena alasan inilah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini memantau ketat pergerakannya, mengklasifikasikannya sebagai 'Varian yang Sedang Dipantau'.
Nah, soal asal-usulnya, BA.3.2 pertama kali berhasil diidentifikasi di Afrika Selatan pada November 2024. Varian ini merupakan keturunan dari BA.3, salah satu subvarian Omicron yang muncul di 2022 dan sempat beredar bersama BA.1 dan BA.2. Perkembangannya yang tenang di awal membuatnya kurang mendapat perhatian. Namun, gelombang penyebaran yang masif di AS belakangan ini akhirnya membuatnya viral dan patut diwaspadai.
Apakah Varian Ini Menyebabkan Sakit yang Lebih Parah?
Ini mungkin kabar baik. Secara umum, tidak.
Dr. Adolfo García-Sastre, direktur institut kesehatan global di Mt. Sinai, memberikan penegasan. Dalam keterangannya kepada Today, ia menyatakan bahwa sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan BA.3.2 menyebabkan penyakit lebih parah atau meningkatkan angka rawat inap di negara-negara dengan penyebaran luas.
"Tentu saja, ini masih bisa menimbulkan masalah," tambah García-Sastre mencairkan optimisme, "tetapi ini bukan jenis yang lebih bermasalah daripada jenis sebelumnya."
Jadi, meski kecepatan penyebarannya perlu diwaspadai, tingkat keparahannya sejauh ini belum menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan. Situasinya tetap diawasi, tapi tidak perlu sampai menimbulkan kepanikan.
Artikel Terkait
Konversi LPG ke CNG Berpotensi Hemat Devisa Hingga USD6 Miliar, Namun Infrastruktur dan Biaya Jadi Tantangan
Sapi Limosin 1,2 Ton Bantuan Presiden untuk Iduladha di Karawang Sempat Stres Nyaris Serang Petugas
Polisi Maros Bekuk 10 Anggota Geng Motor yang Serang Warga dengan Panah dan Senjata Tajam
MNC Peduli Salurkan 450 Paket Daging Kurban untuk Warga Kedoya