DPRD Nagekeo Desak Kajian Ahli Geologi Atasi Retakan Lereng di Keo Tengah

- Senin, 30 Maret 2026 | 16:00 WIB
DPRD Nagekeo Desak Kajian Ahli Geologi Atasi Retakan Lereng di Keo Tengah

Retakan Mencekam di Lereng Nagekeo, DPRD Dorong Penanganan Tak Cuma Insting

Senin, 30 Maret 2026. Kabar soal tanah bergerak di Nagekeo, NTT, bikin was-was. Ini bukan cuma soal lingkungan yang berubah, tapi lebih ke rasa aman warga yang terusik. Ketidakpastiannya itu lho, yang bikin susah tidur.

Di Desa Ladolima Timur, Kecamatan Keo Tengah, buktinya nyata. Lereng bukitnya terkoyak retakan lebar ada yang sampai 5 hingga 10 meter! Gak heran kalau warga sekitar resah. Melihat kondisi itu, DPRD Nagekeo pun turun langsung. Mereka mau pastikan penanganannya nanti gak asal tunjuk, tapi betul-betul terukur.

Rombongan yang dipimpin Kosmas Lawa Bagho dari Partai Perindo ini gabungan dari Komisi II dan III. Menurut mereka, fenomena semacam ini musti ditanggapi dengan kepala dingin. “Fenomena alam seperti ini membutuhkan kepastian berbasis kajian ahli. Karena itu, penting untuk segera menghadirkan tenaga geologi agar masyarakat memperoleh kejelasan dan rasa aman,” tegas Kosmas.

Peninjauan mereka mulai dari Desa Kotakeo I. Di sana, tanah sekitar kantor desa sudah ambles dan longsor. Tapi titik utamanya tetap di Ladolima Timur. Retakan di lereng itu memang mengerikan. Yang menarik, sejak kemarau tahun 2025 dan pasca kejadian terbaru, muncul dua sumber mata air baru di lokasi. Ini jelas pertanda ada sesuatu yang berubah di bawah tanah.

Semua temuan itu cuma pengantar saja. Intinya, dinamika geologi di wilayah itu perlu ditelusuri lebih serius. Perubahan tiba-tiba menuntut kajian mendalam untuk mengukur risiko terhadap keselamatan warga dan lingkungan mereka.

Di posko pengungsian mandiri, dialog dengan warga berlangsung cair. Keluh kesah mereka beragam, dari urusan logistik sehari-hari sampai beban psikologis karena situasi yang belum jelas ujungnya.

DPRD sendiri apresiasi respons cepat BPBD setempat. Tapi, menurut mereka, penanganan harus ditingkatkan. Perlu sinergi dengan lembaga teknis seperti BMKG dan dukungan dari banyak sektor. “Pendekatan kolaboratif antara DPRD, pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam memastikan bahwa setiap langkah yang diambil tetap terarah dan efektif,” kata Kosmas lagi.

Selain urusan teknis, kondisi sosial warga gak boleh dilupakan. Rasa cemas yang menggumpal itu perlu pendampingan, mungkin melibatkan psikolog dan tokoh masyarakat setempat.

Beberapa langkah segera disiapkan. Mulai dari mendatangkan ahli geologi untuk kajian komprehensif, memastikan bantuan logistik tersalur, sampai menyiapkan skenario jangka panjang jika wilayah itu ternyata berisiko tinggi. Edukasi kebencanaan juga penting, biar masyarakat paham dan siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Hasil peninjauan lapangan ini akan dibawa ke forum resmi DPRD. Tujuannya satu: mendorong kebijakan yang lebih konkret dari pemda. Kosmas menutup dengan pesan: “Yang terpenting adalah masyarakat tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah dan bersama-sama menjaga keselamatan. Sementara itu, kita dorong agar langkah-langkah teknis segera dilakukan secara tepat.”

Nah, sekarang tinggal menunggu tindak lanjutnya. Warga Nagekeo berharap retakan di tanah itu tidak diikuti oleh retakan dalam penanganan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar