Perdagangan saham Senin (30/3/2026) diwarnai aksi beli yang cukup solid pada sektor kelapa sawit. Saham-saham emiten perkebunan dan produsen CPO bergerak hijau, menangkap sentimen positif yang datang dari berbagai arah. Investor tampaknya kembali melirik komoditas ini, tak lepas dari dinamika harga global dan yang lebih penting prospek kebijakan biodiesel di dalam negeri.
Di papan perdagangan, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) jadi salah satu yang paling mencolok, melesat 8,44 persen ke level Rp1.735 per unit. Beberapa emiten lain juga ikut merangkak naik. PT Triputra Agro Persada (TAPG) menguat 3,81 persen, disusul PT Salim Ivomas Pratama (SIMP) yang naik 3,25 persen. Tak ketinggalan, saham PT Tunas Baru Lampung (TBLA) dan PT Jaya Agra Wattie (JAWA) juga catat kenaikan signifikan.
Penguatan ternyata cukup merata. PT PP London Sumatra (LSIP), PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS), PT Astra Agro Lestari (AALI), hingga PT Cisadane Sawit Raya (CSRA) semuanya ditutup di zona hijau dengan beragam persentase. Pergerakan ini jelas bukan tanpa alasan.
Di sisi lain, sentimen utama datang dari kebijakan pemerintah. Presiden Prabowo Subianto, dalam kunjungan resminya ke Jepang, menegaskan komitmen untuk mendorong program biodiesel berbasis sawit.
“Kami akan bergerak besar-besaran di sektor biofuel,” ujar Prabowo dalam sebuah forum bisnis di Tokyo, seperti dilaporkan Reuters.
“Tahun ini kami akan memproduksi solar dari minyak sawit dan meningkatkan campurannya dari 40 persen menjadi 50 persen,” imbuhnya.
Pernyataan itu seperti angin segar bagi pasar. Sebelumnya, rencana peluncuran B50 sempat tertunda di Januari lalu karena soal teknis dan pendanaan, sehingga program B40 yang tetap berjalan. Namun, situasi global yang memanas khususnya gangguan pasokan energi akibat ketegangan AS-Israel dengan Iran rupanya membuat wacana B50 kembali mengemuka dan dibahas serius.
Faktor eksternal juga turut bermain. Harga minyak sawit Malaysia, patokan penting bagi pasar, tercatat menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Kontrak acuan CPO pengiriman Juni di bursa Malaysia naik 0,78 persen, didorong oleh kenaikan harga minyak kedelai Chicago dan minyak mentah, plus kinerja ekspor yang terlihat cukup solid.
Menurut David Ng, trader proprietary di Iceberg X Sdn Bhd, pergerakan CPO memang mengikuti tren penguatan komoditas minyak lainnya selama sesi Asia.
“Kinerja ekspor yang kuat juga mendorong sentimen pasar. Kami melihat harga bertahan di atas 4.600 ringgit dengan level resistensi di 4.750 ringgit,” jelasnya.
Jadi, gabungan antara optimisme kebijakan domestik dan dukungan fundamental harga global rupanya cukup ampuh mengerek minat investor. Sektor sawit, yang sempat lesu, kini kembali menunjukkan taringnya di bursa. Menarik untuk dilihat, apakah momentum ini bisa bertahan atau tidak dalam beberapa hari ke depan.
Artikel Terkait
Pahami Kode 10 Digit Waran Terstruktur Sebelum Bertransaksi, Ini Cara Bacanya
BISI International Bagikan Dividen Rp78 Miliar untuk Tahun Buku 2025
ISSP Siapkan Buyback Rp200 Miliar, Respons Harga Saham yang Tertekan
Gubernur The Fed Christopher Waller Serukan Penghapusan Bias Pelonggaran, Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga