Krisis energi global memaksa banyak negara berpikir ulang. Tak terkecuali Indonesia. Pemerintah, seperti diungkapkan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, kini mendorong langkah cepat: mengubah hasil pertanian jadi bahan bakar. Atau dalam istilah yang sering disebut, hilirisasi biofuel.
Rencananya, bensin campuran etanol atau bioetanol akan dikembangkan dari bahan baku lokal. Jagung, ubi, dan tebu menjadi andalan. Komoditas itu dipilih karena tersebar luas di berbagai daerah.
“Ini hasil tindak lanjut arahan Bapak Presiden,” kata Amran di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (30/3/2026).
Pernyataan itu disampaikan usai rapat, tepat sebelum Presiden bertolak ke Jepang dan Korea Selatan. “Beliau sampaikan kita melakukan akselerasi hilirisasi. Yang pertama, untuk sektor pertanian hilirisasi biofuel di saat kondisi geopolitik yang memanas kita butuh langkah cepat,” tambahnya.
Menurut Mentan, langkah ini bukan sekadar proyek jangka pendek. Ada ambisi besar di baliknya. Targetnya adalah kemandirian, baik di sektor pangan maupun energi. “Semua bisa tumbuh di Indonesia. Artinya ke depan bagaimana kita mandiri energi, mandiri pangan. Ini kita lakukan bersama-sama,” ujar Amran, penuh semangat.
Sebagai pembanding, Brasil kerap jadi rujukan. Negeri Samba itu sudah jauh lebih dulu menerapkan campuran etanol tinggi, bahkan ada yang mencapai E27 hingga E37. Nah, Indonesia sendiri nampaknya ingin lompat lebih jauh. Alih-alih bertahap, langsung menargetkan mandatori E20.
“Karena pangan selesai, kita beralih ke energi,” jelasnya.
Amran menegaskan, langkah ini adalah bentuk keberanian. Sebuah keputusan strategis yang digagas pimpinan. “Dan ini sesuatu keberanian Bapak Presiden mengambil langkah-langkah strategis dan fundamental untuk Merah Putih. Ini bukan untuk 10 tahun, tapi ini untuk 1.000 tahun. Dan fundamentalnya kita pasang sekarang,” tutup Amran.
Jadi, inilah upaya nyata yang sedang digeber. Sebuah terobosan yang diharapkan bisa menjawab tantangan krisis sekaligus membangun pondasi energi mandiri untuk waktu yang sangat lama.
Artikel Terkait
Chatib Basri Bantah Ekonomi Indonesia 2026 Setara Krisis 1998, Soroti Risiko Harga Pangan dan Kredibilitas Fiskal
Pembiayaan Cicil Emas BSI Melonjak 97,9 Persen, Tembus Rp16,93 Triliun di Tengah Tren Investasi Lindung Inflasi
Perusahaan China Incar Peluang Besar di Balik Target PLTS 100 GW Indonesia, Soroti Kebutuhan Teknologi Penyimpanan Energi
Presiden Prabowo Resmikan RSUD Lampung Barat dan Buka Munas Hipmi 2026 di Lampung