Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB, Pengamat Soroti Kiprah Diplomasi Prabowo
Kabar bagus datang dari markas PBB di Jenewa. Indonesia kembali mendapat kepercayaan tinggi dari komunitas global. Kali ini, negeri ini resmi memegang posisi strategis sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa. Yang akan memimpin adalah diplomat senior kita, Sidharto Reza Suryodiputro. Pencapaian ini bukan hal sepele. Banyak yang melihatnya sebagai cermin langsung dari reputasi Indonesia yang terus menanjak di panggung diplomasi dunia.
Lantas, apa artinya semua ini? Menurut pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, terpilihnya Indonesia adalah bukti nyata dari kesuksesan diplomasi Presiden Prabowo Subianto. Lebih dari itu, ia menilai ini mematahkan narasi-narasi usang yang kerap menjadikan Indonesia bulan-bulanan dalam isu HAM.
“Kalau Indonesia dipercaya memimpin Dewan HAM PBB, itu artinya dunia menaruh kepercayaan besar. Tuduhan-tuduhan bahwa Prabowo adalah pelanggar HAM secara otomatis terpatahkan oleh fakta diplomatik ini,”
Ujar Amir Hamzah dalam keterangannya, Ahad lalu.
Jabatan ini, tegasnya, jauh dari sekadar simbol. Presiden Dewan HAM punya peran sentral. Mulai dari mengatur agenda, memimpin sidang, hingga memediasi konflik kepentingan antarnegara. Intinya, posisi ini adalah penjaga kredibilitas mekanisme HAM global.
“Tidak mungkin negara yang dianggap bermasalah dalam HAM diberi mandat untuk memimpin forum HAM tertinggi di dunia. Ini soal trust, soal kredibilitas,”
tegasnya lagi.
Di sisi lain, kepercayaan ini tentu tidak jatuh dari langit. Menurut analisis Amir, ini buah dari kombinasi beberapa hal. Kepemimpinan nasional yang stabil jadi fondasinya. Lalu, ada arah diplomasi yang jelas dan kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan di tengah rivalitas negara-negara adidaya yang makin panas.
Amir Hamzah menilai gaya politik luar negeri Prabowo punya andil besar. Pendekatannya yang realistis, tetap berpegang pada prinsip bebas aktif, dan sangat berbasis kepentingan nasional rupanya mendapat apresiasi.
“Prabowo tidak menjadikan diplomasi sebagai panggung retorika, tetapi sebagai instrumen kekuatan negara. Indonesia tampil tegas, namun tetap bisa diterima semua pihak,”
katanya.
Dalam dunia yang terbelah seperti sekarang, Indonesia justru muncul sebagai penyeimbang. Negeri ini mampu berbicara dan diterima oleh banyak blok sekaligus: Barat, Global South, hingga negara-negara Timur Tengah. Itu bukan perkara mudah.
Amir juga menyoroti sosok yang akan memegang tampuk kepemimpinan, Sidharto Reza Suryodiputro. Diplomat karier ini dikenal punya reputasi kuat dan kemampuan komunikasi tingkat dunia yang mumpuni. Pemilihannya menunjukkan bahwa Indonesia tak cuma mengandalkan posisi politik, tapi juga kualitas SDM diplomasinya yang unggul.
“Sidharto adalah diplomat yang mampu meyakinkan dunia. Ia memahami bahasa politik global, peta kepentingan negara-negara besar, dan sensitivitas isu HAM,”
ujar Amir.
Dengan posisi baru ini, peluang terbuka lebar. Indonesia bisa memainkan peran lebih aktif untuk mendorong agenda HAM yang lebih adil, yang tidak bias oleh kepentingan kekuatan besar semata.
Amir bahkan melihat peluang strategis. Posisi ini membuka ruang bagi Indonesia untuk mengangkat kembali kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang kerap luput dari sorotan. Salah satu yang disebutkan secara spesifik adalah situasi di Palestina.
“Kasus pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina adalah salah satu isu yang bisa kembali mendapat sorotan kuat. Dunia internasional perlu diingatkan bahwa HAM tidak boleh tebang pilih,”
tegasnya dengan nada bersemangat.
Ia yakin Indonesia punya legitimasi moral untuk hal itu. Konsistensi membela kemanusiaan dan menolak penjajahan dalam bentuk apapun telah menjadi ciri khas diplomasi kita.
Pada akhirnya, momen ini menandai sebuah kenaikan kelas. Indonesia tak lagi sekadar jadi objek, tapi sudah naik tingkat sebagai subjek yang ikut menentukan arah percaturan politik global.
“Ini bukan hanya kemenangan diplomasi, tetapi juga kemenangan posisi geopolitik Indonesia. Dunia melihat Indonesia sebagai negara besar yang stabil, rasional, dan dapat dipercaya,”
pungkas Amir Hamzah.
Amanah besar ini, menurutnya, harus dimanfaatkan dengan maksimal. Untuk memperkuat kepentingan nasional, memperluas pengaruh, dan tentu saja, menjaga konsistensi prinsip kemanusiaan di mata dunia. Semuanya sedang diuji sekarang.
Artikel Terkait
Aston Villa Hancurkan Bologna 4-0, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi
Mentan: Swasembada Pangan Hanya Mungkin dengan Sinergi Pusat-Daerah