Nyatanya, sejumlah negara di Asia sudah mulai bergerak. Mereka tak menunggu. Bangladesh, contohnya, memberlakukan aturan suhu AC minimal 25 derajat. Thailand sedikit lebih 'hangat', dengan batas 26 derajat. Ada juga yang memangkas jam sekolah dan kuliah, atau membatasi perjalanan dinas pejabat dengan pesawat.
Yang lebih radikal, Pakistan dan Filipina mencoba sistem kerja empat hari dalam seminggu untuk pegawai pemerintah. Upaya mereka menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, berbagai opsi harus diuji.
Jadi, WFH bukan sekadar tren pasca-pandemi lagi. Dalam laporan IEA, ia muncul sebagai salah satu strategi praktis untuk menghemat BBM dan listrik. Di sisi lain, langkah-langkah seperti ganjil-genap dan kampanye naik transportasi umum diharapkan bisa langsung meredam laju konsumsi.
Semuanya bermuara pada satu tujuan: mengamankan pasokan energi global di tengah gejolak yang belum jelas ujungnya.
Artikel Terkait
Kemenhub Imbau Pemudik Tunda Perjalanan Balik Hindari Puncak 24 Maret
Gelombang Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Padati Stasiun di Jakarta
Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Padat, Volume Kendaraan di Tol Cipali Melonjak 167%
Arus Balik Lebaran 2026 Meningkat 167%, Cipali Terapkan Satu Arah