Kalau PDIP jadi oposisi, luar biasa memang. Bisa jadi berkah... omongannya lempeng banget 😀
Puan Tanggapi Usul Bahlil Soal Koalisi Permanen: Saatnya Berdoa, Bukan Bicara Politik
Di tengah suasana duka akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatera, usulan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal koalisi permanen mendapat respons yang cukup menohok dari Ketua DPR Puan Maharani. Bahlil, yang juga Ketum Partai Golkar, melontarkan gagasan itu di hadapan Presiden Prabowo Subianto pada puncak HUT ke-61 partainya di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12).
Namun begitu, bagi Puan, momentumnya terasa sangat tidak tepat.
"Sekarang kita sedang berduka, karena musibah sedang melanda saudara-saudara kita di Aceh, di Sumut, di Sumbar," ujar Puan di kompleks parlemen, Senayan, pada Senin (8/12/2025).
"Jadi lebih baik kita sama-sama berdoa dulu," sambungnya, menegaskan prioritas.
Sebagai Ketua DPP PDIP, Puan menilai semua energi dan perhatian seharusnya difokuskan dulu untuk penanganan bencana. Urusan politik, menurutnya, bisa menunggu. Masih jauh.
"Urusan politik masih jauh. Jadi kita bicarakan setelah kondisi dan situasi Indonesia kembali normal. Semuanya aman dan saudara kita pulih dan Indonesia normal lagi," tuturnya lagi. Poinnya jelas: bencana nasional harus jadi perhatian utama, bukan manuver koalisi.
Lalu, seperti apa sebenarnya usulan yang dilontarkan Bahlil itu?
Di hadapan Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang hadir dalam acara tersebut, Bahlil berargumen bahwa pemerintahan yang kuat membutuhkan stabilitas politik. Dari situlah ide koalisi permanen ia sodorkan.
"Lewat mimbar yang terhormat ini izinkan kami memberikan saran perlu dibuatkan koalisi permanen," kata Bahlil waktu itu.
Ia tampak tak ingin ada lagi dinamika partai yang keluar-masuk dari koalisi pendukung pemerintah. Soliditas adalah kunci.
"Jangan koalisi in-out, jangan koalisi di sana senang di sini senang di mana-mana hatiku senang," ujarnya, disambut riuh peserta.
"Sudah harus kita mempunyai prinsip yang kuat untuk meletakkan kerangka koalisi yang benar. Kalau menderita, menderita bareng-bareng. Kalau senang, senang bareng-bareng, dan ini dibutuhkan gentleman, dibutuhkan gentleman yang kuat," lanjut Bahlil, menekankan komitmen bersama.
Jadi, di satu sisi ada usulan besar untuk mengukuhkan peta politik jangka panjang. Di sisi lain, ada seruan untuk mengesampingkan dulu semua itu, mengingat duka yang sedang menyelimuti negeri. Respon Puan, singkatnya, mengingatkan semua bahwa ada waktu dan tempat untuk segala sesuatu. Dan saat ini, waktunya untuk solidaritas.
Artikel Terkait
Ekonom: Fungsi APBN Bergeser, Danantara Kini Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
DPR Soroti Kelemahan Sistem di Balik Kecelakaan Kereta Bekasi, Dorong Evaluasi Keselamatan Total
Trump Kecam Iran dengan Sindiran Pedas dan Gambar AI, Negosiasi Nuklir Makin Buntu
Mahfud MD Sorot Lemahnya Pengawasan Internal TNI dan Polri dalam Kasus Andrie Yunus