"Gasken, terus lawan, meski sendirian 😃🤟"
Kalimat itu muncul di Facebook, ditulis oleh Mohamad Guntur Romli. Dia jubir PDIP. Singkat, tapi rasanya punya beban yang nggak ringan. Seperti menggambarkan posisi partainya sekarang.
Soalnya begini. Wacana untuk mengembalikan pemilihan kepala daerah ke tangan DPRD, alih-alih lewat suara langsung rakyat, terus dapat angin. Dan anginnya kencang. Hingga saat ini, sudah enam partai besar di Senayan yang setuju. Golkar, Gerindra, PKB, PAN, dan Nasdem sudah dari dulu. Yang bikin banyak orang mengernyitkan dahi adalah Partai Demokrat. Partai yang sebelumnya bersuara lantang menolak, tiba-tiba berbalik haluan.
Lalu bagaimana dengan PKS? Sikap mereka masih abu-abu. Belum jelas benar. Dari informasi yang beredar, mereka masih mengkaji. Tapi ada kecurigaan kuat dan ini banyak diduga orang bahwa PKS pada akhirnya akan ikut arus utama. Ikut kemauan Istana, ikut kemauan Prabowo.
Sekjen PKS, M Kholid, baru-baru ini memberi pernyataan yang cukup hati-hati. Ia menegaskan pihaknya belum mengambil sikap final, baik menerima maupun menolak. "Secara yuridis atau aturan hukum, pemilihan kepala daerah secara langsung maupun tidak langsung oleh DPRD, keduanya sama-sama konstitusional, dibolehkan oleh UUD NKRI 1945 dan sama-sama demokratis," kata Kholid, Jumat lalu.
Pernyataan itu, bagi sebagian pengamat, terdengar seperti pembukaan jalan untuk persetujuan. Tidak ada penolakan tegas.
Lantas, apa yang membuat Demokrat berubah pikiran? Ini spekulasi, tapi masuk akal. Banyak yang meyakini Demokrat tidak ingin bersebrangan dengan Presiden Prabowo. Hubungan baik dengan Istana adalah kunci. Apalagi, ada mimpi besar AHY untuk mendampingi Prabowo di Pilpres 2029. Beda sikap dalam isu pilkada ini bisa merusak semua rencana itu. Karena jangan salah, wacana pilkada oleh DPRD ini memang didorong kuat dari lingkaran Prabowo.
Logika yang sama mungkin akan dipakai PKS. Kalau ingin tetap dianggap ‘bersahabat’, ya ikut saja. Akhirnya, tinggal satu partai yang bertahan di posisi berseberangan: PDIP. Mereka seperti satu-satunya suara yang masih bersikukuh menolak. Sendirian.
Dan postingan Guntur Romli itu, dengan emoticon senyum dan tanda semangat, tiba-tiba terasa seperti sebuah deklarasi. Sebuah tekad untuk bertahan di tengah tekanan, meski hanya sendiri. Situasinya memang semakin jelas. Medan pertarungan politik untuk pilkada mendatang mulai menggambar formasi yang tidak seimbang.
Artikel Terkait
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Pick Up India