Jakarta - John Hartman baru saja diperkenalkan sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, tapi ambisinya sudah terpampang jelas. Pelatih asal Inggris itu tak mau buang-buang waktu. Ia langsung menegaskan satu tekad yang bagi banyak orang terdengar mustahil: menjadi orang pertama yang membawa Indonesia mengalahkan Jepang.
Ya, Jepang, salah satu raksasa sepak bola Asia itu. "Di Indonesia, saya ingin menjadi orang pertama yang mengalahkan Jepang, mengalahkan tim Eropa, dan lolos ke Piala Dunia," tegas Hartman.
Ucapannya itu langsung memantik perhatian. Apalagi, latar belakangnya memang mendukung. Hartman bukan nama baru di peta sepak bola internasional. Ia punya rekam jejak solid, terutama saat menangani Timnas Kanada, baik tim putra maupun putri.
Karirnya bisa dibilang penuh dengan prestasi "perintis". Dia pernah membawa Kanada meraih perunggu Olimpiade dua kali, tahun 2012 dan 2016. Lalu, ada lagi keberhasilan membawa tim putri ke perempat final Piala Dunia 2015. Puncaknya, dialah yang mengakhiri puasa panjang Kanada selama 36 tahun dengan membawa mereka ke Piala Dunia 2022. Dan yang menarik, dalam perjalanan itu, dia pernah menaklukkan Jepang dalam sebuah laga uji coba.
Pengalaman itulah yang mungkin jadi modal utamanya sekarang. Hartman resmi ditunjuk PSSI menggantikan Patrick Couvert sejak 3 Januari lalu. Kontraknya dua tahun, dengan opsi perpanjangan, dan dia akan menangani tim senior hingga U-23.
Di sisi lain, PSSI juga tak hanya bergerak di lapangan. Ada langkah strategis di luar garis putih. Mereka baru saja meresmikan Kelma sebagai apparel baru untuk semua tim nasional, termasuk futsal, untuk empat tahun ke depan.
Menurut Kevin Wijaya, CEO Kelma Indonesia, kerja sama ini lebih dari sekadar urusan jersey. "Ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang kami untuk konsisten meningkatkan standar performa sepak bola nasional," ujarnya.
Hartman sendiri menyambut baik kemitraan ini. Dia yakin seragam baru bisa memberi suntikan motivasi tersendiri bagi para pemain. Sementara Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, melihatnya sebagai pertanda baik. Kehadiran merek internasional seperti Kelma, katanya, menunjukkan nilai industri sepak bola kita mulai diakui dan daya saingnya meningkat di kancah global.
Lalu, bagaimana dengan pergerakan di level klub? Ternyata juga tak kalah seru. Persija Jakarta, misalnya, aktif di bursa transfer putaran kedua BRI Super League. Mereka mendatangkan Shane Patinama, bek naturalisasi yang juga andalan Timnas Indonesia.
Patinama dikontrak untuk 2,5 musim ke depan. Bek berusia 27 tahun ini punya gaya permainan modern; solid bertahan tapi juga tak segan menyokong serangan. Latar belakangnya cukup mentereng: pernah membela akademi Ajax dan Utrecht, lalu berkarier di Eropa sebelum akhirnya merambah Asia Tenggara lewat Buriram United.
Dengan 12 caps untuk Timnas sejak debut 2023, targetnya di Persija jelas. "Saya datang untuk membantu klub meraih gelar juara," tegas Patinama.
Kembali ke Hartman, kehadirannya jelas membawa angin segar. Sebuah optimisme baru bahwa proyek jangka panjang sepak bola Indonesia mungkin sedang menemukan arah yang tepat. Tantangannya besar, tapi ambisinya sudah terpampang nyata. Tinggal menunggu eksekusinya di lapangan.
Artikel Terkait
PSM Makassar Waspadai Gempuran Bali United demi Jauh dari Zona Degradasi
Veda Ega Pratama Finis Keenam di Moto3 Jerez, Tunjukkan Kematangan dan Progres di Atas Rival
Real Madrid Segera Aktifkan Klausul €9 Juta untuk Tebus Nico Paz dari Como
642 Siswi dari 44 SD/MI Ramaikan Babak Final MilkLife Soccer Challenge Samarinda