“Kita bisa berdialog, tapi saya tidak ingin melakukan gencatan senjata,” ucap Trump waktu itu.
Perubahan sikap ini jelas terasa seperti belokan seratus delapan puluh derajat.
Di sisi lain, ketegangan di lapangan belum benar-benar reda. Iran sendiri sudah lebih dulu mengancam akan menjadikan Teluk Persia sebagai medan perang jika fasilitas energinya diserang. Peringatan dari Teheran juga termasuk rencana pemasangan ranjau untuk memblokade jalur pelayaran vital, plus serangan balasan ke pembangkit listrik Israel. Situasinya tetap rentan, meski nada dari Washington kini terdengar berbeda.
Untuk menjaga momentum dialog yang disebutnya “produktif” itu, Trump memberi tambahan waktu lima hari. Apa yang terjadi selanjutnya, tentu masih jadi tanda tanya besar. Tapi satu hal yang pasti: dinamika di kawasan ini sekali lagi membuktikan, politik luar negeri bisa berubah arah dalam sekejap.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Uji Coba WFA untuk ASN Usai Lebaran 2026 dengan Aturan Ketat
Trump Usulkan AS dan Iran Kelola Bersama Selat Hormuz
Trump Ragukan Kepemimpinan Nyata di Iran, Pertanyakan Keberadaan Putra Khamenei
Raksasa Teknologi Siapkan Rp12.000 Triliun untuk Perang Infrastruktur AI