Jakarta masih berjuang melawan musim hujan, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menghantui. Nyamuk Aedes aegypti itu ternyata masih bikin pusing. Data global dari WHO pada 2024 cukup mencengangkan: ada sekitar 14,6 juta kasus dengue di seluruh dunia, dengan korban jiwa mencapai 12.000 orang. Angka-angka itu dengan jelas menunjukkan bahwa penyakit ini belum bisa dianggap enteng.
Di Indonesia sendiri, bebannya luar biasa berat. Coba bayangkan, sepanjang tahun 2024 lalu di luar status Kejadian Luar Biasa BPJS Kesehatan mencatat lebih dari 1 juta kasus rawat inap akibat DBD. Yang lebih memprihatinkan lagi, beban ekonominya nyaris menyentuh angka Rp 3 triliun. Sungguh sebuah angka yang fantastis dan menyedot perhatian.
Menurut Prof Dr dr Fachmi Idris M.Kes dari Pengurus Pusat PMI, ancaman DBD ini nyata untuk semua orang. Dampaknya merembet luas, tidak hanya dirasakan si pasien, tapi juga mengguncang kondisi masyarakat secara keseluruhan.
“Inisiatif ini bagian dari komitmen kami untuk mendukung agenda kesehatan masyarakat,” jelas Prof Fachmi dalam sebuah acara peluncuran di Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2026).
“Kami ingin memperkuat ketahanan masyarakat terhadap penyakit menular. Program ini juga sejalan dengan strategi nasional Kemenkes, di mana PMI bertindak sebagai mitra pemerintah di tingkat akar rumput.”
Nah, sebagai bentuk aksi nyata, lahirlah aliansi “United Against Dengue”. Ini adalah hasil kemitraan publik dan swasta yang digagas PMI bersama beberapa pemangku kepentingan. Intinya, mereka ingin memperkuat pencegahan dengue lewat pendekatan yang menyentuh langsung ke masyarakat.
Aliansi ini punya misi jelas: menyebarluaskan edukasi kesehatan ke berbagai lapisan komunitas. Target besarnya ambisius tapi mulia, mendukung pemerintah mencapai nol kematian akibat dengue pada 2030. Sebuah tujuan yang butuh kerja keras semua pihak.
Di sisi lain, Andreas Gutknecht dari PT Takeda Innovative Medicines menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci. Menurutnya, ancaman DBD yang ada sepanjang tahun di Indonesia harus dihadapi dengan solid.
“Komitmen bersama ini bisa memperkuat aksi di tingkat komunitas,” ujar Andreas. “Masyarakatlah yang paling merasakan dampaknya, jadi mereka juga harus punya bekal untuk menghadapinya.”
Program United Against Dengue sendiri dirancang dengan beberapa pilar. Mulai dari memperkuat kesiapsiagaan, intervensi berbasis masyarakat, hingga memanfaatkan inovasi untuk menekan angka penularan. Pendekatannya multisektor dan mengedepankan bukti.
Lebih luas lagi, ini sebenarnya adalah kolaborasi regional jangka panjang di kawasan Asia-Pasifik. Tujuannya meningkatkan ketahanan masyarakat, mendorong advokasi kebijakan, dan tentu saja, mendukung komunitas yang berhadapan langsung dengan dengue.
PMI juga menegaskan, kolaborasi regional ini berkomitmen mendukung target WHO dan ASEAN. Impiannya sama: mengeliminasi kematian akibat dengue yang sebenarnya bisa dicegah, tepat pada 2030 mendatang. Perjalanan masih panjang, tapi langkah awal sudah dimulai.
Artikel Terkait
Menteri PPPA Minta Maaf soal Usulan Gerbong Khusus Perempuan yang Dinilai Tak Sensitif Pascakecelakaan KRL
Menteri PPPA Minta Maaf Usai Usul Pemindahan Gerbong Wanita Dinilai Tak Sensitif Pascakecelakaan Kereta
Gubernur Papua Tegaskan Tanah Masyarakat Depapre Tak Akan Dibeli untuk Proyek Pusat Perikanan
Mesir Gelar Latihan Perang 100 Meter dari Perbatasan Israel, Kerahkan Tank dan Rudal