Menteri PPPA Minta Maaf soal Usulan Gerbong Khusus Perempuan yang Dinilai Tak Sensitif Pascakecelakaan KRL

- Rabu, 29 April 2026 | 23:20 WIB
Menteri PPPA Minta Maaf soal Usulan Gerbong Khusus Perempuan yang Dinilai Tak Sensitif Pascakecelakaan KRL

JAKARTA Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permintaan maaf. Soalnya, usulannya soal pemindahan gerbong khusus perempuan KRL ke tengah rangkaian kereta bikin gaduh.

Waktu itu, pernyataan itu muncul pas suasana lagi panas-panasnya. Baru saja terjadi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam. Banyak yang kaget, apalagi usulan itu keluar di tengah duka dan kekhawatiran publik soal keselamatan.

Lewat video di Instagram resmi Kementerian PPPA, Rabu (29/4/2026), Arifah mengaku salah. Katanya, pernyataan sebelumnya memang kurang pas dan bikin banyak orang tidak nyaman.

"Terkait pernyataan saya pascainsiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut," ucapnya.

Di sisi lain, banyak yang menilai usulan itu tidak sensitif. Masa iya, pas orang lagi berduka, malah ngomongin gerbong? Wajar kalau kemudian ramai di media sosial. Arifah pun langsung meralat.

Ia menegaskan, usulan pemindahan gerbong khusus perempuan itu sebenarnya tidak dimaksudkan untuk mengabaikan keselamatan penumpang lain. Sama sekali tidak. Menurut dia, keselamatan tetap prioritas utama, tanpa memandang gender.

“Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu, baik perempuan maupun laki-laki,” katanya. Ia juga menekankan, semua pihak punya kepentingan yang sama soal keamanan transportasi umum. Tidak ada niat bikin perlakuan khusus yang merugikan kelompok tertentu.

Namun begitu, yang namanya publik ya tetap punya penilaian sendiri. Permintaan maaf sudah disampaikan. Kini tinggal bagaimana ke depannya, agar kebijakan yang lahir benar-benar peka terhadap situasi dan kondisi.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar