Jakarta Barat Kubur 234 Kilogram Ikan Sapu-sapu, Petugas Kesulitan Basmi Telur di Lubang Turap

- Kamis, 30 April 2026 | 01:15 WIB
Jakarta Barat Kubur 234 Kilogram Ikan Sapu-sapu, Petugas Kesulitan Basmi Telur di Lubang Turap

Jakarta Ikan sapu-sapu, si penghuni dasar perairan yang sering dianggap remeh, ternyata jadi masalah serius di Jakarta Barat. Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) setempat sudah mengubur 234 kilogram ikan ini. Bayangkan, sebanyak itu hasil tangkapan mereka sejak 17 April 2026 lalu.

Kepala Seksi Perikanan Sudin KPKP Jakarta Barat, Aas Asih, ngasih angkanya langsung. “Sampai sekarang sudah 234 kilo yang kita tangkap dan kubur. Kalau DKI kan 11 ton,” katanya, dikutip dari Antara, Kamis, 30 April 2026. Lumayan banyak, ya?

Nah, rencananya mereka bakal turun lagi ke lapangan. “Besok kita mau tangkap lagi di Citra 5 dan selanjutnya rutin setiap minggu,” ungkap Aas. Jadi, ini bukan operasi dadakan, tapi sudah terjadwal. Setiap pekan, petugas pasti turun.

Tapi, soal membasmi telur ikan sapu-sapu, ceritanya lain lagi. Aas bilang petugasnya cukup kerepotan. Soalnya, ikan ini suka bertelur di lubang-lubang turap. Susah dijangkau, apalagi dibersihkan tuntas.

Menurut Aas, ikan sapu-sapu itu punya sifat invasif. Artinya, dia bisa menguasai habitat dan mengusir ikan lain. Bahayanya jelas, terutama buat populasi ikan lokal di Kali Taman Semanan Indah. Belum lagi kebiasaannya bikin lubang di dinding turap. Sekilas sih keren buat tempat berkembang biak, tapi lama-lama turapnya jadi rapuh. Bisa ambrol.

Di sisi lain, ada juga oknum yang sengaja memburu ikan ini. Katanya sih buat bahan baku makanan olahan, kayak siomay. Padahal, Aas mengingatkan, ikan sapu-sapu mengandung bakteri E. coli atau Salmonella. Bahkan logam berat seperti timbal juga ada.

“Dikhawatirkan kalau ada masyarakat yang mengkonsumsi itu secara terus-menerus, terakumulasi dalam tubuh manusia. Makanya (ikan sapu-sapu) mesti dibasmi,” pungkas Aas. Jadi, meski kelihatannya sepele, dampaknya bisa panjang. Mulai dari ekologi sampai kesehatan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar