Jakarta – Danantara akhirnya buka suara soal merger BUMN Karya. Proses penggabungan tujuh perusahaan pelat merah di sektor konstruksi itu dipastikan rampung pada 2026. Tapi, memang ada kemunduran dari target awal yang semestinya selesai pada Juni tahun ini. Direktur Operasional Danantara, Dony Oskaria, mengakui ada penyesuaian timeline. Namun begitu, ia tetap optimistis. “Kemungkinan besar merger BUMN karya itu mundur setelah saya lihat timeline-nya. Tapi yang pasti tahun ini selesai,” ujarnya, dikutip dari Antara. Nah, sebelum merger benar-benar terjadi, ada pekerjaan rumah yang harus dibereskan terlebih dahulu. Pemerintah dan Danantara, menurut Dony, bakal fokus pada divestasi aset-aset non-inti. Jadi, bukan langsung gabung-gabung, tapi ada tahapan yang harus dilalui. Tahap awal restrukturisasi ini mencakup pelepasan bisnis di luar lini utama konstruksi. Misalnya, fiber optik, sistem penyediaan air minum alias SPAM, hingga aset jalan tol. Semua itu akan dilepas dulu. Langkah ini dinilai penting. Soalnya, beban utang BUMN harus diturunkan sebelum mereka masuk ke fase konsolidasi. Dony bilang, “Ini akan kami divestasikan dulu, sehingga itu untuk menurunkan utang-utang mereka.” Tapi, ia juga menegaskan, proses divestasi tidak bisa dilakukan terburu-buru. Setiap aset harus dikaji satu per satu. Tujuannya jelas: agar tetap memberi nilai optimal. “Kita tidak boleh melakukan divestasi yang tidak menguntungkan. Kita harus memastikan apa yang kita divestasi memberikan manfaat dan keuntungan, terutama menurunkan kewajiban BUMN Karya sebelum mereka dikonsolidasikan,” tegasnya.
Artikel Terkait
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor di Tuban, Target Kirim 450.000 Ton Semen ke AS pada 2026
Iran dan AS Akan Teken Kesepakatan Damai Secara Digital dalam Beberapa Hari, Klaim Menlu Iran
Trump Dukung Timnas AS Jelang Piala Dunia 2026, Tak Hadir di Stadion
Dua Pengendara Motor Tercebur ke Proyek Saluran Air di Surabaya, Satu Tewas