Usai Idulfitri, ada satu acara yang selalu ditunggu-tunggu warga Jakarta: Lebaran Betawi. Perhelatan tahunan ini memang meriah banget. Bayangkan saja, ada berbagai pertunjukan budaya yang memukau, kuliner khas yang menggiurkan, dan tentu saja, jadi ajang silaturahmi yang terbuka untuk siapa saja.
Nah, di tahun 2026 ini, Lebaran Betawi kembali digelar dengan semangat yang sama: merawat persatuan dan melestarikan budaya. Tapi, sebenarnya dari mana sih asal-usul tradisi ini? Kapan pertama kali diadakan? Dan apa tema yang diusung tahun ini? Mari kita telusuri.
Cerita di Balik Lebaran Betawi
Banyak yang nggak tahu, tradisi ini ternyata baru dimulai pada 2008 lalu. Gagasannya berasal dari Amarullah Asbah, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus) Masyarakat Betawi. Ide awalnya sederhana, ingin bikin sarana silaturahmi buat warga Betawi di Jakarta selepas hari raya.
Namun begitu, antusiasme masyarakat ternyata luar biasa. Acara yang awalnya cuma satu hari, akhirnya berkembang jadi perayaan tiga hari berturut-turut. Bahkan, skalanya pun meluas. Dari sekadar kumpul-kumpul internal, Lebaran Betawi berubah jadi festival budaya besar yang melibatkan banyak pihak.
Kalian bisa bayangkan keramaiannya. Di sana, telinga dimanjakan alunan gambang kromong dan orkes Tanjidor. Mata tak henti-hentinya menyaksikan pertunjukan lenong, tari tradisional, atau aksi pencak silat yang memukau. Belum lagi bazar kulinernya! Dari kerak telor, soto betawi, sampai bir pletok, semua ada. Juga berbagai pernak-pernik tradisional yang jadi buah tangan khas.
Intinya, Lebaran Betawi sudah lama jadi tradisi tahunan yang fungsinya lebih dari sekadar hiburan. Ini adalah ruang pertemuan untuk semua kalangan, bukan cuma orang Betawi asli, tapi juga seluruh warga Jakarta dan bahkan pendatang dari luar daerah. Semuanya berbaur dalam satu sukacita.
Semangat Tahun 2026: Merawat Tradisi di Kota Global
Untuk tahun ini, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, akan kembali ramai pada 10-12 April mendatang. Menurut Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto, momen ini punya dua tujuan penting.
“Lebaran Betawi menjadi momentum mempererat silaturahmi masyarakat Jakarta setelah Idulfitri sekaligus melestarikan budaya Betawi,” jelasnya.
Dia juga menegaskan bahwa perhelatan yang ke-18 kalinya ini adalah bagian dari upaya serius. Jakarta ingin tetap menjadi kota global, tapi dengan akar lokal yang kuat. Identitas budaya Betawi harus terus hidup di tengah gedung-gedung pencakar langit.
Makanya, tema yang diangkat tahun ini cukup menggambarkan semangat itu: “Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global”.
Rangkaian acaranya sendiri kolaboratif, digarap oleh Pemprov DKI bersama Bamus Betawi dan Majelis Kaum Betawi. Selama tiga hari, pengunjung akan disuguhi beragam aktivitas. Mulai dari malam syukuran, karnaval budaya yang pastinya dihiasi ondel-ondel, hingga senam bersama dan bazar kuliner yang selalu ramai. Pemilihan Lapangan Banteng juga bukan tanpa alasan; selain luas, tempat ini punya nilai sejarah yang dalam bagi kota Jakarta.
Pada akhirnya, Lebaran Betawi 2026 diharapkan bukan sekadar pesta. Ini adalah ruang perjumpaan. Tempat di mana kebersamaan dipererat dan tradisi dirawat, agar tak lekang oleh zaman meski kota ini terus berlari menjadi metropolis.
Artikel Terkait
Prabowo Penuhi Undangan Macron ke Paris, Kunjungan yang Sempat Tertunda Kini Terlaksana
Penjualan Tiket Pelni Tembus 39.797 Selama Libur Iduladha, Bau-Bau dan Makassar Jadi Rute Favorit
Ekonom: Kebijakan Ekspor SDA Satu Pintu Jangan Sampai Ciptakan Monopoli Birokrasi Baru
Golkar DKI Jakarta Potong 117 Hewan Kurban untuk Iduladha 1447 H, Sebar ke Lima Wilayah