Ratusan Wali Santri Jemput Anak dari Ponpes Pedang Ati usai Kasus Pencabulan Pimpinan Terbongkar

- Kamis, 28 Mei 2026 | 01:45 WIB
Ratusan Wali Santri Jemput Anak dari Ponpes Pedang Ati usai Kasus Pencabulan Pimpinan Terbongkar

Ratusan orang tua santriwati berdatangan ke Pondok Pesantren (Padepokan) Pedang Ati di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Pekalongan, Jawa Tengah, untuk menjemput anak-anak mereka setelah kasus pencabulan yang melibatkan pimpinan dan pengasuh ponpes tersebut terbongkar. Kekhawatiran mendalam menyelimuti para wali santri, terutama terhadap kondisi psikologis putri mereka yang masih berada di lingkungan pesantren.

Khasanah, seorang wali santri asal Pemalang, mengaku cemas dengan peristiwa yang menimpa lembaga pendidikan keagamaan tersebut. "Saya khawatir dengan kejadian ini," ujarnya pada Kamis, 27 Mei 2026. Kekhawatiran serupa juga diungkapkan Riyadi, wali santriwati asal Batang, Jawa Tengah. Ia menekankan bahwa situasi yang tidak kondusif akibat kasus asusila itu sangat berdampak pada psikologis para santriwati yang masih bertahan di ponpes. "Terutama (khawatir) untuk psikologis para santriwati yang masih bertahan di ponpes," kata dia.

Di sisi lain, Kepala Polres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi mengakui adanya kendala dalam penanganan kasus dugaan pencabulan tersebut. Menurutnya, para korban yang merupakan santriwati ponpes merasa takut, diduga mengalami intimidasi, dan masih dibayangi trauma. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi aparat dalam mengungkap kasus secara tuntas.

Terbongkarnya kasus ini bermula dari aksi puluhan anggota Ormas Yakuza Mangenes yang menggeruduk Pondok Pesantren Pedang Ati. Mereka mendesak pimpinan ponpes untuk mempertanggungjawabkan banyaknya laporan tindakan asusila yang diterima. Selain melakukan penggerudukan, ormas tersebut juga mendampingi sejumlah korban untuk melapor ke kepolisian. Langkah itu kemudian mendorong aparat untuk bergerak menangkap pimpinan dan pengasuh Ponpes Pedang Ati, Abdul Khalim Fadlun (AKF).

Perwakilan Ormas Yakuza Mangenes, Eko Ebes, mengungkapkan bahwa hingga saat ini tercatat enam korban yang telah melapor. Namun, ia tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah seiring terbukanya kasus ini. "Sampai saat ini ada 6 korban yang melapor, dimungkinkan akan bertambah setelah terbongkarnya kasus ini," ujarnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar