Selain itu, ada pula traktor terapung yang dirancang khusus untuk lahan basah. Biayanya disebut lebih murah. Meski masih dalam tahap uji coba, teknologi ini dinilai punya potensi besar untuk memudahkan kerja di sawah.
Tak ketinggalan, Kementan juga melirik teknologi dryer portable. Alat pengering yang bisa dibawa ke sawah atau kebun ini dinilai sangat praktis. "Ini sangat bagus. Insya Allah kalau operasionalnya bagus, kami akan tambah tahun depan," kata Amran penuh harap.
Kerja sama ini ternyata lebih luas dari sekadar alat mesin. Ruang lingkupnya merambah ke pengembangan benih unggul dan inovasi peternakan. Salah satunya adalah program pengembangan ayam lokal berproduktivitas tinggi hasil kerja sama dengan UNHAS.
"Nah, seperti inilah yang sebenarnya kita harus lakukan. Ada dari UNHAS, ada ayam. Ini penting banget. Mungkin tahun depan kita mulai," tambahnya.
Amran meyakini, sinergi antara pemerintah, lembaga riset, dan kampus adalah kunci. Untuk mempercepat inovasi, sekaligus menguatkan daya saing komoditas nasional di pasar global.
Kolaborasi ini melibatkan beberapa perguruan tinggi terkemuka, seperti ITS, ITB, IPB, Universitas Andalas, dan Universitas Hasanuddin. Langkah nyata yang patut ditunggu hasilnya di lapangan.
Artikel Terkait
Telkom Konsolidasikan Aset Fiber BUMN Lain ke InfraNexia untuk Dongkrak Pasar
Ketua Banggar DPR Desak Pemerintah Tunda Proyek Tidak Mendesak untuk Pertebal Cadangan Fiskal
Prabowo Panggil Menteri Kehutanan Bahas Satgas Pendanaan Taman Nasional
Coding dan AI Resmi Jadi Mata Pelajaran Pilihan di SD hingga SMA