Ia lantas menyinggung sejarah panjang BUMN. Awalnya, perusahaan negara didirikan pasca kemerdekaan untuk membangun industri strategis tekstil, kertas, farmasi, dan sebagainya. Namun seiring waktu, banyak BUMN berkembang pesat dan membentuk jaringan anak perusahaan yang semakin rumit dan luas.
Pertamina, contohnya, disebutnya memiliki sekitar 200 anak dan cucu perusahaan. Nah, dalam struktur yang begitu kompleks, masalah pun muncul. Prabowo bahkan menyoroti sebuah peraturan yang ia anggap ganjil.
“Anehnya lagi, ada peraturan yang lebih aneh, kalau BUMN boleh diaudit oleh negara, katanya cucu perusahaan tidak boleh diaudit. Peraturan dari mana ini?”
Kondisi itulah yang semakin mengukuhkan keyakinannya: pendirian Danantara adalah langkah tepat. Tujuannya jelas, mengamankan aset-aset negara yang nilainya sangat besar dan selama ini tersebar di berbagai BUMN.
Meski begitu, Prabowo tak mau jumawa. Ia mengingatkan bahwa capaian saat ini masih jauh dari target ideal. Dalam pandangannya, perusahaan yang sehat harus punya ROA minimal 10 persen.
“Kalau yang bagus 12 persen, yang hebat 15 persen. Kita harus memiliki target yang bagus, yaitu 10 persen,” tegasnya.
Potensinya sungguh besar. Ia menghitung, jika ROA Danantara bisa mencapai 5 persen saja, lembaga ini berpotensi menyumbang sekitar USD50 miliar atau setara Rp800 triliun per tahun untuk kas negara. Angka yang fantastis.
Karena itu, di akhir sambutannya, Prabowo memberi semangat sekaligus tantangan kepada jajaran pimpinan Danantara. Target masih jauh, tapi bukan hal mustahil.
“Pimpinan Danantara, sasaranmu masih jauh. Tapi tidak mengapa. Saya yakin dan percaya, kunci dari manajemen yang baik adalah di hati dan di jiwa,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Gejolak Harga Minyak Ancam BBM, Pengemudi Ojol Beralih Listrik Justru Tenang
Lima Kapal Diserang dalam Dua Hari, Keamanan Jalur Vital Teluk Makin Terancam
Prabowo Serukan Penghentian Aksi Militer ke MBS, Siap Jadi Mediator
Kemkomdigi Perketat Patroli Siber untuk Tangkal Penipuan Mudik dan Hoaks Jelang Lebaran