BBC Masuki Markas Rahasia Batalion Perempuan Kurdi di Tengah Ketegangan Iran-AS

- Kamis, 12 Maret 2026 | 10:30 WIB
BBC Masuki Markas Rahasia Batalion Perempuan Kurdi di Tengah Ketegangan Iran-AS

Spekulasi makin bergulir. Serangan udara AS dan Israel yang tak henti-hentinya membuat banyak orang menduga kelompok bersenjata Kurdi Iran yang bermarkas di Irak bakal segera menyeberang perbatasan untuk melawan Republik Islam. Menanggapi ancaman itu, Iran tak tinggal diam. Mereka sudah melancarkan serangan balasan ke sejumlah basis Kurdi, bahkan sebuah rudal balistik berhasil menewaskan seorang petempur.

Di tengah situasi panas ini, Presiden AS Donald Trump pada 7 Maret lalu tiba-tiba menyatakan hal yang berbeda. Ia bilang, dirinya tidak ingin melibatkan suku Kurdi dalam pertempuran di Iran.

Nah, dalam ketegangan yang makin memuncak itu, BBC berhasil mendapat akses langka. Kami diizinkan masuk ke salah satu kelompok pasukan Kurdi yang unik: sebuah batalion yang seluruh anggotanya perempuan.

Butuh waktu berhari-hari. Negosiasi alot, ditambah menunggu yang tak pasti, akhirnya membuahkan hasil. Kami diperbolehkan memasuki labirin gua dan terowongan bawah tanah di Irak utara, yang jadi markas rahasia mereka. Hidup di sini jauh dari biasa. Mereka mengoperasikan jaringan komunikasi tersendiri, bersembunyi dari deteksi pemerintah Iran dan Turki, bertahan di wilayah semi-otonom Kurdistan yang tak sepenuhnya aman.

Hanya satu orang yang diizinkan masuk sepenuhnya: seorang fotografer perempuan. Dia tinggal dan hidup bersama para petempur Kurdi itu selama sepuluh hari penuh.

Migrasi kelompok pemberontak Kurdi asal Iran ke pegunungan Irak sudah berlangsung puluhan tahun. Ini adalah taktik bertahan. Mereka menghindari intelijen Iran, milisi Syiah proksi di Irak, plus tentunya pasukan Turki. Baru-baru ini, kelompok-kelompok besar itu membentuk sebuah koalisi baru.

Isu pun berkembang. Beredar spekulasi bahwa Donald Trump sendiri yang melakukan kontak langsung dengan para pemimpin Kurdi, meminta mereka bergabung dalam perang.

Dalam wawancara telepon dengan Reuters tanggal 5 Maret, Trump memang terkesan mendukung.

"Saya pikir itu luar biasa jika mereka ingin melakukannya," katanya soal kemungkinan pasukan Kurdi menyerbu Iran.

Tapi, dua hari kemudian, sikapnya seperti berbalik. Di hadapan wartawan pada Sabtu (7/3), Trump menegaskan bahwa ia tidak ingin pasukan Kurdi menginjakkan kaki di tanah Iran.

"Kami tidak ingin membuat perang ini semakin rumit," ujarnya.

Serangan udara AS-Israel yang terus-menerus itu jelas memicu reaksi. Iran membalas dengan menyerang posisi-posisi Kurdi. Sebuah rudal balistik melesat dan menewaskan seorang petempur.

Di antara banyak kelompok, Partai Hidup Merdeka Kurdistan (PJAK) termasuk yang paling terorganisir. Mereka mengaku sudah bertahun-tahun bersiap untuk menyerang Iran.

Di markas rahasia mereka, kami bertemu Aryen, petempur berusia 21 tahun. Dia anggota unit Pasukan Pertahanan Perempuan di PJAK.

"Saya berjuang untuk keluarga saya dan rakyat Kurdi yang telah lama ditindas," katanya.

Sebagai orang Kurdi di Iran, Aryen merasakan sendiri ketidakadilan dan diskriminasi. Baginya, mengangkat senjata seperti sudah jadi pilihan terakhir. Dua tahun lalu, dia memutuskan bergabung dengan PJAK.

Hidup di Bawah Tanah

Terowongan itu gelap, lembab, tapi ternyata lengkap. Ada persediaan makanan, uang tunai, bahkan gudang amunisi. Sebuah tempat perlindungan yang dirancang untuk bertahan lama.

PJAK merahasiakan jumlah pasukannya. Tapi dari yang terlihat, sekitar 60 petempur sebagian besarnya perempuan telah berlatih di markas ini, bahkan sebelum serangan AS-Israel dimulai. Latihannya beragam: militer, sesi ideologi, taktik penembak jitu, hingga mengoperasikan drone. Mereka juga diperiksa kesehatannya, persiapan untuk kemungkinan dikirim ke perbatasan.

"Perang ini sudah lama diperkirakan," kata Gelawej Ewrin, juru bicara PJAK yang kini berusia 40 tahun.

Dia meninggalkan bangku kuliah geografi di Urmia dua puluh tahun lalu untuk jadi prajurit. Separuh hidupnya dihabiskan di pegunungan. Dari dalam gua rahasia, dia bercerita belum pernah sekalipun bertemu keluarga sejak pergi dulu.

Menurut Ewrin, gelombang protes yang dipimpin perempuan sejak 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini telah melemahkan Republik Islam, bahkan sebelum Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei wafat dalam serangan.

Jalan Tanpa Pilihan

Penindasan berdarah pemerintah Iran terhadap gerakan "Perempuan, Hidup, Kebebasan" justru jadi pemantik bagi anggota baru PJAK. Seperti Bigen yang baru 18 tahun. Sebelum bergabung, dia ikut demo dan menolak pakai jilbab di sekolah.

"Perempuan tidak punya banyak pilihan," ujarnya sambil mengepang rambut temannya.
"Kami harus memilih: menderita karena kekerasan domestik dan pembatasan sosial, atau melindungi diri lewat revolusi."

Kelompok pemberontak Kurdi sering dituduh merekrut anak-anak. Bigen sendiri masih pelajar saat bergabung tiga tahun lalu. Bagi banyak petempur di sini, perlawanan bersenjata adalah satu-satunya jalan yang mereka lihat.

"Pertarungan saya adalah untuk menjamin masa depan yang bebas bagi generasi Kurdi berikutnya," kata Delal, mantan dokter gigi yang jadi gerilyawan di usia 23 tahun.
"Bagi rakyat Kurdi, 200 tahun terakhir telah diwarnai penindasan dan kekerasan."

PJAK punya keterkaitan dengan PKK di Turki, yang tahun lalu memutuskan gencatan senjata. PJAK menghormati keputusan itu, tapi menegaskan perlawanan bersenjata terhadap Iran akan terus berjalan. Baik Turki maupun Iran mencap mereka sebagai organisasi teroris.

Ketakutan akan Perang Saudara

Meski dilatih untuk bertempur, ada kekhawatiran mendalam di antara mereka. Tantangan menghadapi militer Iran yang lengkap senjatanya sangat besar.

"Perang saudara adalah sesuatu yang kami harap tidak terjadi," ujar Ewrin.
"Kami harus melakukan segala cara agar perang ini mengarah pada runtuhnya rezim, bukan berbalik ke arah kami dan memaksa kami saling bertempur di masa depan. Timur Tengah sedang didesain ulang, dan rakyat Iran harus bersatu."

Kelompok oposisi punya harapan Iran jadi model demokrasi baru. Tapi kekhawatiran akan konflik horizontal apabila kekuatan nasionalis mendominasi juga sangat nyata. Suku Kurdi, sekitar 10% dari 90 juta populasi Iran, merasa terpinggirkan puluhan tahun. Kini, di tengah pertikaian dengan AS-Israel, Teheran makin gencar menyerang basis mereka di Kurdistan Irak.

BBC mencoba mengonfirmasi soal percakapan dengan Trump kepada para pemimpin koalisi baru. Mereka menolak berkomentar dan membantah laporan bahwa pasukan Kurdi sudah menyeberang ke Iran. Meski begitu, PJAK mengklaim punya kekuatan "signifikan" di dalam wilayah Iran, yang hanya menunggu waktu tepat untuk bertindak.

"Keterlibatan militer kami bergantung pada bagaimana situasi berkembang dalam beberapa hari ke depan," kata seorang pemimpin.

Di Persimpangan Jalan

Kelompok oposisi Kurdi lain masih memantau. Mustafa Hijri dari Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI) menegaskan mandat mereka adalah mengelola Kurdistan Iran selama masa transisi, dan mengimbau pengikutnya menahan diri dari balas dendam.

Di sisi lain, ada keraguan di kalangan petempur. Seberapa bisa diandalkan dukungan AS? Seorang sumber yang paham dinamika internal mengatakan, kelompok oposisi tak akan menggerakkan pasukan darat tanpa jaminan dukungan udara dari AS. Serangan darat tanpa itu bisa berakhir "menghancurkan" bagi mereka.

Bagi para petempur perempuan di Pasukan Pertahanan Perempuan, "kebebasan" yang diperjuangkan sudah terlalu lama dinanti. Delal, misalnya, sudah meninggalkan lokasi pelatihan dan ditempatkan lebih dekat ke perbatasan.

Jika suku Kurdi benar-benar terjun dalam perang melawan Republik Islam, tidak ada yang bisa memastikan akhirnya. Berapa lama pertempuran akan berlangsung, dan seperti apa bentuk kemenangan atau kekalahan itu, semua masih menjadi tanda tanya besar.

Reportase tambahan oleh Valentina Sinis

Nama-nama prajurit perempuan yang digunakan adalah julukan militer, untuk alasan keamanan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar