Kontribusi segmen non-tambang terhadap pendapatan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) meningkat menjadi 7,6 persen dari total pendapatan perseroan yang mencapai 2,79 miliar dolar AS pada 2025. Angka ini menunjukkan pergeseran strategi bisnis perusahaan yang selama ini identik dengan sektor pertambangan batu bara.
Kenaikan tersebut ditopang oleh lonjakan lini bisnis digital dan teknologi yang tumbuh 47 persen secara tahunan. Ekspansi jaringan menjadi faktor utama, tercermin dari peningkatan jumlah homepass sebesar 64,1 persen secara tahunan menjadi 10,5 juta homepass.
Presiden Direktur DSSA, Krisnan Cahya, menyatakan bahwa pilar bisnis non-pertambangan lainnya tetap menunjukkan kinerja positif. Volume penjualan yang stabil berhasil dipertahankan di tengah normalisasi harga batu bara global.
“Fokus perseroan saat ini adalah mengakselerasi digitalisasi operasional guna memperkuat dan mengoptimalkan kinerja produksi di seluruh lini. Di saat yang sama, perseroan terus mengakselerasi investasi pada sektor energi baru terbarukan dan memperkokoh infrastruktur digital dan teknologi guna mendorong pertumbuhan yang lebih progresif,” ujar Krisnan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Selasa (9/6/2026).
Krisnan menambahkan, segmen digital dan teknologi diproyeksikan memberikan kontribusi yang lebih besar pada 2026. Hal ini seiring dengan merger antara PT Eka Mas Republik (MyRepublic) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic). Penggabungan ini menghasilkan entitas dengan jaringan kabel serat optik lebih dari 116.000 kilometer.
Aksi korporasi tersebut akan memperkuat posisi MoraRepublic sebagai penyedia layanan fiber to the home (FTTH) terbesar kedua di Indonesia. Untuk melengkapi ekosistem digital, DSSA bersama KIRA SG One Pte Ltd mempercepat pembangunan Metro Data Center (SMX01) berstandar internasional di kawasan pusat bisnis Jakarta.
“Fasilitas tersebut memiliki kapasitas IT Load sebesar 18 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026,” tutur dia.
Sementara itu, dari sisi kinerja keuangan secara keseluruhan, DSSA membukukan penurunan pendapatan dari 3,01 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 2,79 miliar dolar AS pada 2025. Penurunan ini merupakan imbas dari penyesuaian harga batu bara di pasar global.
Dampaknya terasa pada perolehan laba bersih konsolidasian yang turun menjadi 361,20 juta dolar AS, dibandingkan 542,78 juta dolar AS pada tahun sebelumnya. Meskipun demikian, produksi batu bara justru meningkat. Volume produksi mencapai 57,2 juta ton atau tumbuh 7,7 persen secara tahunan, sementara volume penjualan naik 4,4 persen secara tahunan menjadi 56,7 juta ton.
Artikel Terkait
Bursa Asia Terpuruk, Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS ke Iran
IHSG Dibuka Melemah Tipis ke Level 5.744, Mayoritas Sektor Tertekan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Buyback Terkoreksi Rp40.000 per Gram
Tempo Scan Bagikan Dividen Rp676,48 Miliar untuk Tahun Buku 2025