MURIANETWORK.COM - Seorang anak memilih mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli alat tulis dan merasa malu. Tragedi memilukan ini terjadi di tengah masyarakat kita, memantik refleksi mendalam bukan hanya tentang kemiskinan ekonomi, tetapi juga tentang kerapuhan sistem dukungan sosial dan psikologis bagi anak-anak. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana rasa malu dan keputusasaan bisa sedemikian berat hingga mengalahkan naluri bertahan hidup seorang anak?
Insiden ini bukan sekadar kisah pilu individu, melainkan sebuah cermin yang memantulkan masalah kolektif. Di balik angka dan statistik, tersembunyi luka psikologis yang dalam, di mana seorang anak memandang kemiskinan sebagai aib personal, bukan sebagai kondisi yang dapat diatasi bersama. Dalam suasana yang seharusnya penuh harapan, sekolah justru bisa berubah menjadi arena yang tanpa sadar memperuncing perasaan tersisih dan tak berharga.
Mengapa Sebuah Pilihan Ekstrem Bisa Terjadi?
Secara sosiologis, akar masalahnya seringkali berlapis. Pertama, ada persoalan kemiskinan yang multidimensi. Bagi seorang anak, kemiskinan bisa berarti ketiadaan pilihan dan ruang untuk bernapas. Ketika lingkungan sekolah, yang idealnya menjadi tempat berlindung, justru menjadi panggung perbandingan sosial, rasa malu dapat membesar menjadi beban yang tak tertahankan. Anak-anak belum memiliki kerangka berpikir untuk memahami kemiskinan sebagai masalah struktural; mereka cenderung menyalahkan diri sendiri.
Kedua, budaya yang menekankan penampilan material tanpa diimbangi empati yang mendalam. Dalam lingkungan seperti ini, anak yang tak memiliki alat tulis "lengkap" bisa merasa terus diawasi dan dihakimi, bahkan oleh sikap diam sekalipun. Luka akibat perasaan direndahkan secara halus itu bisa menumpuk secara diam-diam.
Ketiga, ekosistem pendampingan yang retak. Dalam banyak kasus, anak menghadapi pergumulannya sendirian. Guru kerap terbebani tugas administratif, orang tua terkungkung oleh himpitan ekonomi, dan komunitas sekitar sibuk dengan urusan bertahan hidup masing-masing.
“Ketika tidak ada satu pun orang dewasa yang benar-benar hadir, keputusasaan menemukan jalannya sendiri,” ujar seorang pengamat yang mendalami kasus ini.
Peran Agama dalam Membangun Ketahanan Batin
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pembiasaan nilai-nilai spiritual dan pembentukan karakter berlandaskan agama sejak dini dapat menjadi fondasi ketahanan mental. Praktik ini bukan dimaksudkan sebagai solusi tunggal, melainkan sebagai pondasi makna dalam menjalani hidup secara kolektif.
Anak-anak yang dibiasakan dengan ritual doa dan refleksi seperti berdoa sebelum belajar, mensyukuri makanan, atau mendoakan keluarga secara tidak langsung dilatih untuk menemukan ketenangan dan harapan. Kebiasaan sederhana ini dapat menumbuhkan daya tahan dan semangat hidup.
Menariknya, tradisi lintas agama di Indonesia memiliki benang merah yang sama: penegasan akan nilai kehidupan, pemaknaan atas penderitaan, dan keyakinan bahwa manusia tidak berjalan sendirian.
Dalam Islam, Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah "tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya." Pesan ini, jika disampaikan dengan bahasa yang sesuai usia, dapat menanamkan keyakinan bahwa kesulitan bukanlah hukuman akhir.
Sementara dalam pandangan iman Kristiani, Alkitab mengajarkan kasih yang memihak yang kecil dan lemah. Pembiasaan doa dalam hidup sehari-hari bukan pelarian, melainkan latihan harian untuk berkata: aku berharga, aku unik, dan aku tidak sendiri serta aku milih Allah.
Ajaran-ajaran serupa tentang ketabahan, welas asih, dan dukungan komunitas juga ditemukan dalam Dharma umat Hindu, praktik metta dalam Buddhisme, serta nilai ren dan li dalam Konghucu. Semua tradisi ini bertemu pada satu prinsip: martabat manusia (being) jauh lebih tinggi daripada sekadar apa yang dimilikinya (having).
Agama Perlu Ditopang oleh Aksi Sosial yang Nyata
Namun, nilai-nilai luhur agama akan menjadi rapuh jika tidak disertai dengan perwujudan nyata dalam struktur sosial. Fondasi spiritual pada diri anak bisa retak jika lingkungan sekitarnya terus membiarkan ketimpangan dan tidak ramah terhadap tumbuh kembang mereka.
Berdasarkan pengamatan, setidaknya ada tiga langkah konkret yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Pertama, menciptakan sekolah yang berempati, bukan hanya mengejar prestasi akademis semata. Sekolah dapat menerapkan kebijakan sensitif seperti penyediaan alat tulis bersama, dana solidaritas kelas, dan melatih guru untuk menggunakan bahasa yang membangun. Intinya, anak harus merasa aman untuk meminta bantuan.
Kedua, mengoptimalkan peran komunitas keagamaan sebagai jejaring pengaman. Tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng berpotensi menjadi posko kepedulian yang menyediakan beasiswa mikro, pendampingan, atau sekadar ruang aman untuk bercerita.
“Iman yang hidup selalu berwajah sosial,” tegas seorang praktisi yang aktif dalam pendampingan komunitas.
Ketiga, negara harus hadir hingga ke persoalan yang terlihat sepele. Bantuan pendidikan seringkali gagal menyentuh kebutuhan harian yang justru krusial bagi harga diri seorang anak, seperti alat tulis atau seragam yang layak. Kehadiran negara diperlukan untuk memastikan hal-hal mendasar itu tidak lagi menjadi penghalang martabat.
Membangun Kultur Harapan Bersama
Tragedi ini adalah alarm keras bagi semua pihak. Sebuah bangsa tidak boleh membiarkan anak-anaknya memikul beban yang seharusnya ditanggung secara kolektif. Sementara nilai-nilai spiritual dan agama menanamkan daya lenting batin kemampuan untuk tetap berharap keadilan sosial harus menyediakan tanah subur agar harapan itu bisa bertumbuh dan berbuah.
Indonesia, dengan keberagaman imannya, memiliki modal sosial yang besar berupa nilai-nilai kemanusiaan yang sejalan. Jika sinergi antara keluarga, sekolah, komunitas keagamaan, dan negara dapat diperkuat, maka rasa malu lambat laun dapat digantikan oleh rasa aman, keputusasaan oleh pendampingan, dan kemiskinan oleh solidaritas yang tulus.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukanlah semata angka pertumbuhan ekonomi, melainkan seberapa aman dan nyaman seorang anak dari keluarga kurang mampu berjalan menuju sekolahnya tanpa rasa takut dipermalukan dan seberapa banyak tangan orang dewasa yang siap menjaganya dalam perjalanan itu. Lingkungan sosial yang manusiawi adalah tempat di mana setiap individu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, merasa dimanusiakan.
Pormadi Simbolon. Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Banten, alumnus Magister Ilmu Filsafat STF Driyarkara.
Artikel Terkait
Polisi Sydney Bubarkan Aksi Tolak Kunjungan Presiden Israel dengan Gas Air Mata dan Semprotan Merica
Pengacara Bantah Virgoun Suruh Sopir Akses CCTV Rumah Inara Rusli
Teguran Soal Drum Berisik Berujung Penganiayaan dan Laporan Balik di Cengkareng
Ribuan Warga Australia Protes Kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog