Setelah jeda cukup lama, PT PLN (Persero) akhirnya kembali merambah pasar utang global. Perusahaan pelat merah ini baru saja menggalang dana segar melalui penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS. Nilainya tak main-main: US$1,5 miliar atau setara dengan Rp25,29 triliun jika mengacu pada kurs Rp16.860 per dolarnya.
Dana sebesar itu rencananya akan disalurkan untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur listrik dalam negeri. Fokusnya antara lain pada proyek-proyek pembangkit yang tidak lagi mengandalkan batu bara.
Transaksi penting ini melibatkan firma hukum global Clifford Chance sebagai penasihat hukum. Menariknya, selain mendampingi penerbitan obligasi terbaru ini, Clifford Chance juga memberikan nasihat kepada para arranger dan dealer untuk pembaruan program GMTN (Global Medium Term Note) PLN yang bernilai fantastis, mencapai US$15 miliar.
Penerbitan kali ini terbagi dalam dua seri. Seri pertama senilai US$500 juta dengan kupon bunga 4,75% dan jatuh tempo pada 2031. Sementara seri kedua lebih besar, US$1 miliar, dengan bunga sedikit lebih tinggi di 5,45% dan tenor lebih panjang hingga tahun 2036.
Yang patut dicatat, ini adalah momen kembalinya PLN ke pasar obligasi dolar AS setelah terakhir kali melakukannya pada 2020. Sebuah langkah yang diamati banyak kalangan.
Alan Yeung, Lead Partner di Clifford Chance, menyampaikan optimismenya.
"Kami senang bisa mendukung perbankan dalam transaksi penting ini. Keberhasilan PLN kembali ke pasar obligasi dolar AS itu jelas mencerminkan kuatnya kepercayaan investor internasional. Tidak hanya terhadap sektor infrastruktur Indonesia, tapi juga terhadap instrumen kredit berkualitas tinggi yang punya keterkaitan dengan negara," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (9/2/2026).
Di balik layar, sindikasi perbankan yang menggarap deal ini terdiri dari nama-nama besar. Mulai dari Citigroup, HSBC, Mandiri Sekuritas, lalu ada juga MUFG Securities Asia Limited Cabang Singapura, SMBC Nikko Securities (Hong Kong) Limited, dan Standard Chartered Bank. Keroyokan lembaga keuangan global ini menunjukkan betapa seriusnya transaksi tersebut.
Lantas, untuk apa dana triliunan rupiah itu dialokasikan? Menurut informasi, fokus utamanya adalah mendongkrak pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Secara spesifik, dananya akan dipakai untuk pengembangan sektor transmisi dan distribusi, plus tentu saja, menggenjot proyek pembangkit listrik non-batu bara. Sebuah langkah strategis seiring dengan tren transisi energi yang sedang digencarkan.
Artikel Terkait
PSC 119 Sidoarjo Tangani 542 Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Sepanjang Januari-Mei
13 WNI Gagal Berangkat Haji dari YIA karena Diduga Jalur Ilegal
Anggota DPRD DKI: Idul Adha Momentum Perkuat Kepedulian Sosial di Tengah Tantangan Perkotaan
Marc Marquez Dipastikan Tampil di MotoGP Italia 2026 Usai Pulih dari Cedera