Moody's Tegaskan Peringkat Indonesia, Pemerintah: Cermin Ketahanan Ekonomi
Kabar baik datang dari lembaga pemeringkat internasional Moody's. Mereka menegaskan peringkat kredit Indonesia tetap di level Baa2. Bagi pemerintah, keputusan ini bukan sekadar angka. Ini dianggap sebagai bukti nyata ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global yang tak kunjung reda.
Penegasan itu, menurut analisis Moody's, didasari oleh sejumlah faktor. Kekayaan sumber daya alam kita yang melimpah jadi salah satu poin penting. Struktur demografi yang dinilai menguntungkan juga berperan. Tak ketinggalan, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan dengan hati-hati turut memperkuat penilaian. Intinya, ini menunjukkan kepercayaan pasar global terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas.
Faktanya, kondisi fundamental ekonomi kita memang masih terlihat kokoh. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 tercatat mencapai 5,39%, angka tertinggi sejak pandemi melanda. Secara tahunan, pertumbuhan di 2025 berada di level 5,11%. Yang juga patut dicatat, defisit fiskal berhasil dikendalikan di bawah ambang batas 3% terhadap PDB. Rasio utang pemerintah pun relatif terjaga, sekitar 40% terhadap PDB.
“Terkait perubahan outlook, kami yakin perkembangan kebijakan dan kerangka kelembagaan yang telah dan sedang diimplementasikan akan menjawab kekhawatiran yang disampaikan,”
Demikian penjelasan Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, pada 8 Februari 2026.
Di sisi lain, pemerintah tak berhenti berbenah. Untuk menarik lebih banyak investasi, kerangka hukum untuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara terus disiapkan. Dua undang-undang telah menjadi landasannya: UU No. 1 Tahun 2025 tentang pembentukannya dan UU No. 16 Tahun 2025 yang memisahkan fungsi regulasi BUMN dengan operasional Danantara. Langkah konkretnya, Danantara bahkan telah mempresentasikan RKAP 2026 ke Komisi XI DPR, menjawab catatan Moody's soal penguatan kelembagaan.
Soal pembiayaan, pemerintah menegaskan sistemnya kini lebih terstruktur. Program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis tetap dibiayai APBN. Sementara untuk pembiayaan pembangunan lainnya, Danantara yang akan turun tangan. Skema ini dinilai cerdas: disiplin fiskal terjaga, tapi sumber pembiayaan alternatif tetap terbuka tanpa membebani anggaran negara. Komitmen itu terlihat dari realisasi defisit 2025 sebesar 2,92% dan target 2026 yang lebih rendah lagi, 2,68%.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri diposisikan sebagai investasi jangka panjang. Hingga kini, lebih dari 22 ribu dapur komunitas beroperasi, menjangkau lebih dari 55 juta orang, dan menciptakan lebih dari sejuta lapangan kerja. Di sisi pengeluaran, efisiensi lewat Inpres No. 1 Tahun 2025 difokuskan pada pengendalian belanja administratif, bukan memotong program inti.
Reformasi di pasar modal juga digeber. Pemerintah, OJK, dan BEI berkoordinasi untuk sejumlah langkah. Mulai dari menaikkan minimum free float jadi 15%, memperkuat transparansi kepemilikan saham, mempercepat demutualisasi bursa, hingga meningkatkan kualitas informasi perusahaan. Draf regulasinya ditargetkan terbit Maret 2026.
Ke depan, komitmen menjaga kredibilitas kebijakan akan terus dipegang. Disiplin fiskal, tata kelola Danantara yang transparan, reformasi pasar modal, dan koordinasi yang solid antarlembaga menjadi kunci.
“Seperti apa yg disampaikan Menko Airlangga, komunikasi menjadi penting, pihak Danantara dan perbankan Indonesia agar bisa memberikan penjelasan kepastian arah fiskal dan moneter Indonesia ke lembaga-lembaga pemeringkat yang ada,”
Pungkas Haryo menutup penjelasannya.
Mengenal Moody's dan Skala Peringkatnya
Moody's Corporation adalah raksasa jasa keuangan dunia yang berbasis di New York. Fokus utamanya? Pemeringkatan kredit dan analisis risiko. Nama mereka sangat diperhitungkan ketika menilai kelayakan kredit suatu pemerintah, perusahaan, atau instrumen utang. Produk andalannya, Moody's Ratings, sering jadi acuan utama pelaku bisnis dan negara.
Pengaruhnya besar. Bagi penerbit utang, rating dari Moody's langsung berimbas pada biaya pinjaman. Rating tinggi biasanya berarti bunga lebih rendah, karena risiko gagal bayar dinilai kecil. Regulator dan bank sentral juga memanfaatkannya untuk memantau stabilitas sistem keuangan.
Lalu, bagaimana mereka memberi peringkat? Setelah investigasi mendalam, Moody's menggunakan skala huruf dan angka. Peringkat tertinggi adalah Aaa, yang berarti risiko gagal bayar sangat kecil. Sementara peringkat terendah adalah C, yang menandakan kemungkinan gagal bayar sangat tinggi. Peringkat Indonesia, Baa2, berada di tengah-tengah masuk kategori medium grade, dengan risiko kredit moderat.
Skala lengkapnya, dari risiko terendah ke tertinggi, adalah: Aaa; Aa1, Aa2, Aa3; A1, A2, A3; Baa1, Baa2, Baa3; Ba1, Ba2, Ba3; B1, B2, B3; Caa1, Caa2, Caa3 (spekulatif); Ca (sangat spekulatif); dan C.
Tak sembarang memberi nilai, Moody's mempertimbangkan banyak hal. Mulai dari rasio keuangan, arus kas, tingkat utang, hingga faktor yang lebih lunak seperti kualitas manajemen, tren industri, dan bahkan kondisi geopolitik. Semuanya dianalisis untuk mendapatkan gambaran utuh tentang kemampuan bayar suatu entitas.
Artikel Terkait
Anggota DPR Soroti Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza: Perlu Kajian Teknis dan Perhatikan Beban APBN
KUHP dan KUHAP Baru Perkuat Perlindungan Hukum bagi Korban Perempuan dan Anak
Pedagang Es Cincau Keliling Tewas Diduga Akibat Kelelahan di Bekasi
Taman Cinta Takalar Jadi Destinasi Romantis Gratis Jelang Valentine