MURIANETWORK.COM - Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menyerap aspirasi pelaku industri rokok skala kecil dan petani tembakau dalam sebuah sarasehan di Semarang, Minggu (14/1/2024). Pertemuan yang difasilitasi Padepokan Ilir-ilir Sunan Kalijogo ini menyoroti kompleksitas kebijakan tembakau yang menyangkut hajat hidup ribuan pelaku usaha, namun juga beririsan dengan isu kesehatan dan lingkungan. Wattimena mengaku lebih memilih mendengarkan berbagai masukan sebelum dibahas lebih lanjut di tingkat parlemen.
Mendengarkan Suara Pelaku Usaha Menengah ke Bawah
Dalam pertemuan yang dihadiri perwakilan Persatuan Pabrik Rokok dan Petani Tembakau Indonesia (P2RPTI) dari tingkat pusat hingga cabang itu, Wattimena mengungkapkan bahwa dialog semacam ini memberinya perspektif baru. Ia menyadari besarnya kontribusi dan ketergantungan masyarakat pada industri ini, khususnya di kalangan produsen menengah ke bawah dan petani.
"Ini terus terang suatu hal yang baru ya mengenai rokok, para pelaku produsen rokok kalangan menengah ke bawah," ujarnya di sela acara.
Ia mengakui, setiap keputusan yang diambil di tingkat legislatif mengenai tembakau bersifat sangat sensitif. Persoalannya tidak hanya tentang ekonomi, tetapi juga berdampak pada bidang lain seperti kesehatan masyarakat.
"Jadi, saya lebih mengambil sikap untuk mendengarkan dan mendapatkan masukan untuk nantinya dibahas lintas komisi," jelas Samuel Wattimena menegaskan pendekatannya.
Kebijakan Harus Pertimbangkan Dampak Sosial-Ekonomi
Politisi tersebut menekankan bahwa pembuatan regulasi tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Melarang begitu saja komoditas yang menjadi tulang punggung perekonomian banyak keluarga, menurutnya, bukan solusi yang bijak tanpa alternatif yang matang. Pendekatan kebijakan harus komprehensif, menimbang dengan cermat antara berbagai kepentingan dan dampak yang mungkin timbul.
"Tidak bisa serta merta mengatakan bahwa rokok itu tidak sehat dan dilarang karena kebijakan akan menyangkut banyak sumber pendapatan masyarakat," tegasnya.
Potensi Wisata Budaya di Padepokan Ilir-ilir
Di luar pembahasan tembakau, Wattimena juga melihat potensi lain dari lokasi sarasehan. Ia menilai Padepokan Ilir-ilir Sunan Kalijogo memiliki nilai budaya yang kuat dan berpeluang dikembangkan sebagai destinasi wisata yang edukatif. Tujuannya adalah untuk mendekatkan kembali generasi muda pada kearifan lokal.
"Sebetulnya dengan Padepokan Ilir-ilir ini yang saya ingin lakukan adalah menghadirkan kembali, mengingatkan kembali kepada generasi muda mengenai segala sesuatu yang sebetulnya sudah dimiliki oleh kebudayaan Jawa," ungkapnya.
Sayangnya, nilai-nilai luhur tersebut kini mulai memudar dan dianggap kurang relevan oleh sebagian anak muda. Padahal, menurut Wattimena, tata krama dan etika yang menjadi ciri budaya Nusantara justru bisa menjadi identitas bangsa di tengah percaturan global.
Fasilitasi Aspirasi dan Penguatan SDM UMKM
Pengasuh Padepokan Ilir-ilir, Romo Lilik Bukhori, menjelaskan bahwa pihaknya sengaja memfasilitasi pertemuan ini sebagai jembatan antara wakil rakyat dan konstituen. Kehadiran anggota dewan dinilai penting untuk memberikan arahan dan masukan yang konstruktif bagi perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
"Hadirnya bapak Samuel ini sangat diperlukan supaya bisa memberikan arahan dan masukan yang harus dikerjakan," tutur Romo Lilik.
Meski apresiasi terhadap program pemerintah untuk UMKM sudah baik, ia menilai fokus selanjutnya harus pada penguatan sumber daya manusia. Peningkatan kualitas dan kreativitas pelaku usaha, seperti perajin batik warna alam di Desa Malon yang ia sebutkan, menjadi kunci untuk mendongkrak perekonomian lokal secara berkelanjutan.
Artikel Terkait
Jakarta Padat Aktivitas: Kerja Bakti 100 Ribu Personel, Persiapan Festival Imlek, hingga Pengamanan Laga Persija
BRI Hapus Biaya Transaksi Reksa Dana di BRImo hingga Juni 2026
KBS Hancurkan Pacific Caesar 93-68, Perpanjang Penderitaan Tuan Rumah di IBL
Sekuel The Devil Wears Prada Dijadwalkan Tayang Global April-Mei 2026