Lalu, siapa saja pemasok utamanya? Sebelumnya Rizal menyebut ada delapan perusahaan yang akan menyuplai batu bara untuk menutupi defisit di sejumlah PLTU. Mereka adalah Adaro Indonesia, Arutmin Indonesia, Berau Coal, Kaltim Prima Coal, Kideko Jaya Agung, Multi Harapan Utama, Indominco Harapan Mandiri, dan tentu saja, Bukit Asam.
"Kami harapkan bahwa sebelum Lebaran, batu bara sudah bisa sampai ke seluruh pembangkit yang memerlukan, sehingga ancaman defisit ke depan bisa diatasi,"
harap Rizal.
Meski begitu, untuk mengawal operasi hingga akhir tahun 2026, ternyata masih dibutuhkan tambahan pasokan. Rizal menyebut angka sekitar 40 juta ton lagi masih diperlukan.
"DMO (Domestic Market Obligation) batu bara untuk PLN itu 84 (juta ton) ditambah 40 (juta ton) lagi. Itu khusus untuk PLN sepanjang tahun ini,"
katanya merinci.
Mengapa sempat muncul ancaman krisis pasokan? Rizal mengungkapkan beberapa faktor. Cuaca yang kurang bersahabat di awal tahun jadi salah satu penyebab. Di sisi lain, beberapa pemasok juga sempat menunggu kepastian aturan dari pemerintah sebelum melakukan pengiriman.
Kini, dengan komitmen yang sudah terjalin, harapannya semua berjalan mulus. Listrik tetap menyala, Lebaran pun tenang.
Artikel Terkait
APBN Defisit Rp135,7 Triliun, Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen
Menkeu Siapkan Penghematan Anggaran Hadapi Ancaman Defisit Akibat Harga Minyak
Menteri Keuangan Siapkan Skenario Antisipasi Defisit Jika Harga Minyak Capai USD92
Filipina Terapkan Kerja Empat Hari Seminggu untuk Kantor Pemerintah, Antisipasi Krisis Energi Global