Menteri dan Ribuan Warga Buka Puasa Bersama di Masjid Raya Baiturrahman yang Baru Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 09:20 WIB
Menteri dan Ribuan Warga Buka Puasa Bersama di Masjid Raya Baiturrahman yang Baru Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Jumat sore itu, halaman Masjid Raya Baiturrahman sudah ramai. Ribuan orang berdatangan, memadati pelataran masjid kebanggaan Aceh itu. Mereka menunggu waktu azan magrib, sekaligus menyambut tamu-tamu penting dari Jakarta. Pemerintah Aceh sendiri menyiapkan tak kurang dari lima ribu porsi hidangan buka puasa untuk masyarakat.

Acara buka bersama ini memang spesial. Ia menjadi penutup rangkaian Aceh Ramadhan Festival sekaligus memperingati malam Nuzulul Qur'an. Di sisi lain, momentum ini dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi. Itulah yang disampaikan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul.

"Buka bersama seperti ini bisa mempererat hubungan antara masyarakat dan pemerintah,"

katanya melalui keterangan tertulis di hari berikutnya.

Hadir mendampingi Gus Ipul adalah Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian. Mereka disambut langsung oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf beserta jajaran. Tampak juga Wakil Gubernur Fadhlullah, Kapolda Marzuki Ali Basyah, Kajati Yudi Triadi, Sekda M Nasir, ditambah para ulama dan kepala daerah se-Aceh. Suasana terasa lengkap.

Gubernur Muzakir Manaf lantas bercerita. Tradisi buka puasa bersama di masjid ini setiap tanggal 17 Ramadan, menurutnya, sudah mengakar lama di hati masyarakat Aceh.

"Alhamdulillah, kini Masjid Raya Baiturrahman telah disertifikasi oleh Kementerian Pariwisata sebagai warisan budaya nasional,"

ungkapnya dengan nada bangga.

Sementara itu, Tito Karnavian mengaku bersyukur bisa kembali ke Baiturrahman di momen Nuzulul Qur'an yang penuh berkah ini. Namun begitu, kunjungannya bukan sekadar seremonial. Sebagai Ketua Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, ia menegaskan komitmen pemerintah pusat.

Pemulihan di Aceh harus terus dipercepat. Tujuannya jelas: agar warga bisa segera menempati rumah mereka dan beraktivitas normal seperti sedia kala.

"Masjid ini bukan hanya ikon Aceh, tetapi juga milik bangsa Indonesia. Penetapan sebagai cagar budaya nasional menunjukkan bahwa masjid ini merupakan bagian dari warisan budaya bangsa,"

tutup Tito, menegaskan makna nasional dari bangunan bersejarah itu.

Usai hidangan buka puasa disantap bersama, suasana tak lantas reda. Para pejabat, dari tingkat pusat hingga daerah, bersama ribuan masyarakat, melanjutkan ibadah. Mereka shalat magrib, isya, dan tarawih berjamaah di dalam masjid. Suara lantunan ayat suci mengisi ruang, mengakhiri sebuah malam yang sarat makna di Banda Aceh.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar