Kontrak Berjangka AS Menguat di Tengah Harapan Pemulihan Saham Teknologi, Konflik Timur Tengah Masih Bayangi

- Senin, 08 Juni 2026 | 09:15 WIB
Kontrak Berjangka AS Menguat di Tengah Harapan Pemulihan Saham Teknologi, Konflik Timur Tengah Masih Bayangi

Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat bergerak menguat pada perdagangan Minggu malam waktu setempat, didorong oleh harapan pemulihan saham teknologi dan produsen semikonduktor setelah pekan lalu mencatatkan kerugian signifikan.

Saham-saham unggulan di sektor teknologi dan pembuat cip menjadi motor utama penguatan ini. Investor mulai kembali melirik sektor tersebut setelah aksi ambil untung besar-besaran pada pekan sebelumnya. Namun, di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah tetap menjadi bayang-bayang yang membayangi pergerakan pasar.

Berdasarkan data pasar, kontrak berjangka S&P 500 naik 0,1 persen ke level 7.411,25 poin. Kontrak berjangka Nasdaq 100 mencatat kenaikan lebih tajam, yakni 0,6 persen menjadi 29.174,50 poin. Sementara itu, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average juga menguat 0,1 persen ke posisi 50.751,0 poin.

Penguatan harga berjangka ini terjadi setelah Wall Street mengalami tekanan berat pada perdagangan Jumat lalu. Indeks utama anjlok akibat kerugian besar di sektor teknologi dan semikonduktor. Salah satu pemicunya adalah rilis data penggajian yang lebih kuat dari perkiraan, yang kembali memicu kekhawatiran bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih panjang.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal ke Israel pada Minggu. Serangan tersebut disebut-sebut sebagai balasan atas meningkatnya agresi Israel terhadap Lebanon dalam sepekan terakhir. Laporan menyebutkan bahwa Israel tengah mempersiapkan serangan balasan, meskipun Presiden AS Donald Trump meminta Israel untuk menahan diri dengan alasan masih ada harapan tercapainya kesepakatan damai dengan Teheran.

Serangan Iran terjadi setelah Israel mengaku telah menyerang target-target Hizbullah di pinggiran selatan Beirut. Permusuhan yang kembali memanas di Lebanon Selatan ini semakin memperumit upaya negosiasi. Teheran sebelumnya menuntut gencatan senjata di Lebanon sebelum bersedia membahas kesepakatan damai yang lebih luas dengan AS dan Israel.

Dalam dua pekan terakhir, AS dan Iran telah saling melancarkan serangan udara yang menguji kerapuhan gencatan senjata di antara keduanya. Situasi ini meredupkan harapan akan adanya kesepakatan damai, meskipun Trump berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan tersebut sudah di depan mata.

Dampak langsung dari eskalasi ini terlihat pada harga minyak yang melonjak tajam setelah serangan akhir pekan. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran akan perang berkepanjangan yang dapat mengganggu perekonomian global. Sentimen negatif ini telah membebani Wall Street sepanjang pekan lalu.

Pada perdagangan Jumat, indeks Nasdaq Composite menjadi yang terpuruk paling dalam. Indeks berbasis teknologi itu ambles 4,2 persen ke level 25.709,43 poin penurunan harian terburuk sejak April 2025. Indeks S&P 500 merosot 2,6 persen menjadi 7.383,74 poin, sedangkan Dow Jones turun 1,4 persen ke posisi 50.866,78 poin.

Kerugian terbesar ditopang oleh saham-saham semikonduktor. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik mendorong investor menarik dana dari sektor yang sebelumnya tumbuh pesat. Nvidia Corporation, perusahaan terdepan di bidang kecerdasan buatan, mencatat penurunan lebih dari enam persen pada hari Jumat.

Tekanan di Wall Street diperparah oleh data nonfarm payrolls bulan Mei yang jauh melampaui ekspektasi. Angka tersebut menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja AS meskipun ekonomi dihadapkan pada tantangan akibat konflik Iran. Kekuatan pasar tenaga kerja justru memberi Federal Reserve ruang lebih luas untuk menaikkan suku bunga, terutama di tengah kenaikan harga energi. Imbal hasil obligasi pemerintah pun melonjak tajam pekan lalu, menambah kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar