Lalu, bagaimana sebenarnya mengukur ‘normal’ itu? Mantan Kapolri itu menjelaskan, indikatornya cukup banyak. Mulai dari pemerintahan yang berjalan, layanan publik, akses jalan, hingga hal-hal mendasar seperti listrik, air bersih, dan internet. Ketersediaan SPBU, pasokan gas LPG, sampai normalisasi aliran sungai juga jadi pertimbangan.
Secara umum, perkembangan rekonstruksi dan rehabilitasi memang menunjukkan tren yang baik. Akses jalan utama sudah berfungsi total, listrik menyala, dan SPBU beroperasi seperti biasa. Tapi, pekerjaan rumah masih menumpuk.
“Kalau pasar sudah bergerak semua, jalan, tapi UMKM-nya belum (optimal sepenuhnya). Masih tugas kita lagi ada pembersihan lumpur, ada jembatan, jalan desa, daerah yang perlu kita selesaikan," katanya menambahkan.
Jadi, meski angka pengungsi menurun dan banyak wilayah mulai pulih, perjalanan menuju pemulihan total masih panjang. Pemerintah tampaknya masih harus menyelesaikan pekerjaan di tingkat yang lebih mikro, terutama di daerah-daerah yang masih masuk kategori ‘perlu atensi khusus’.
Artikel Terkait
Ghost in the Cell Joko Anwar Tayang April 2026, Usung Satir Politik di Balik Cerita Horor Penjara
DPR Dorong Proses Hukum Tegas untuk 16 Mahasiswa UI Terduga Pelecehan Seksual
WMPP Gelar Rights Issue untuk Perbaiki Struktur Utang Rp4,04 Triliun
Final Trailer Ikatan Darah Tampilkan Aksi Brutal dan Lokalitas Indonesia