Tim khusus nantinya akan melakukan analisis cepat. Jika ternyata industri dalam negeri belum sanggup memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan, maka opsi impor tetap terbuka.
"Nanti dianalisa di Kementerian Keuangan, tapi analisanya akan cepat. Sehingga kalau memang di dalam negeri enggak ada, yaudah ke luar negeri," jelas Purbaya.
Ia menekankan alasan kehati-hatian ini. "Kalau field gas tuh, elemen keamanannya amat tinggi. Salah sedikit itu meledak."
Diketahui, megaproyek yang berlokasi di perairan Maluku ini dikelola oleh konsorsium besar: Inpex Masela Ltd sebagai operator dengan porsi 65%, disusul PT Pertamina Hulu Energi Masela 20%, dan Petronas Masela Sdn. Bhd 15%.
Skemanya memang ambisius. Kapasitas produksinya ditargetkan mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun, ditambah 150 juta standar kaki kubik gas pipa per hari, dan 35.000 barel kondensat setiap harinya. Angka-angka yang fantastis.
Di sisi lain, kehadiran Blok Masela diharapkan bukan cuma sekadar menambah cadangan energi nasional. Lebih dari itu, proyek ini dianggap bisa jadi motor penggerak ekonomi kawasan Timur Indonesia, menciptakan efek berantai yang luas bagi masyarakat sekitar.
Semua kini tergantung pada langkah cepat tim khusus yang dijanjikan itu. Waktunya terus berjalan, target 2029 sudah menanti.
Artikel Terkait
Anthropic Tuduh Tiga Perusahaan AI China Curi Data untuk Latih Model
Indonesia dan Arm Jalin Kerja Sama Strategis untuk Kuasai Teknologi Desain Chip
Menhub Proyeksikan Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 18 Maret, Andalkan WFA untuk Sebaran Arus