Selain harga, kendala pasokan di dalam negeri juga turut mempengaruhi keputusan impor. Joao mengungkapkan bahwa Agrinas sebenarnya telah membeli produk-produk dalam negeri yang tersedia. Namun, untuk jenis kendaraan tertentu, stok di pasar sudah habis dan waktu tunggu pengadaannya terbilang lama.
“Semua produk dalam negeri, kami sudah beli semua untuk truk produk roda enam habis sudah tidak ada lagi. Coba sekarang beli Kino pick up atau Mitsubishi Canter, itu udah tidak ada. Nunggu (ketersediaan) produknya paling satu tahun baru bisa,” tuturnya.
Kondisi ini, menurutnya, memaksa perusahaan untuk melihat alternatif lain guna menjaga kelancaran program. Impor dari India dipandang sebagai cara untuk mendiversifikasi sumber pasokan dan tidak terus bergantung pada produk-produk arus utama yang ketersediaannya fluktuatif.
Koordinasi dengan Pemerintah Pusat
Joao Mota menegaskan bahwa langkah strategis ini tidak diambil secara sepihak. Keputusan untuk mengimpor kendaraan niaga tersebut telah diketahui dan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat, termasuk dengan Danantara selaku penyedia anggaran pengadaan.
Dengan demikian, langkah ini diharapkan dapat segera merealisasikan tujuan Kopdes Merah Putih dalam memotong mata rantai distribusi yang selama ini membebani petani. Kehadiran armada logistik baru diharapkan dapat menjadi pendorong baru bagi perekonomian lokal, sesuai dengan visi program tersebut.
Artikel Terkait
Aturan WFH ASN Berlaku, Kantor Imigrasi Tetap Buka Penuh
Survei BI: Keyakinan Konsumen Masih Optimis Meski IKK Maret 2026 Turun Tipis
SpaceX Catat Kerugian Rp85 Triliun di Tengah Persiapan IPO
Pemprov Kalteng Terapkan Sistem Kerja Fleksibel 4 Hari Kantor, 1 Hari WFH bagi ASN