Bagi pelaku usaha kecil, kabar terbaru soal plastik ini sungguh memusingkan. Harga bahan kemasan andalan itu melonjak drastis, bahkan ada yang sampai dua kali lipat. Tekanannya langsung terasa, terutama di sektor makanan dan minuman.
Pemicunya? Konflik geopolitik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz. Dua hal itu mengguncang pasokan global, yang ujung-ujungnya bikin harga plastik meroket. Padahal, bahan ini kan jadi tulang punggung kemasan bagi banyak usaha.
Henry Chevalier dari Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) mengaku khawatir. Menurutnya, situasi ini bisa memicu gelombang inflasi yang lebih luas, di saat daya beli masyarakat justru lagi tak menentu.
"Coba lihat kantong kresek biasa saja," ujarnya, Rabu lalu. "Harganya sudah naik hampir 50 persen. Gila, kan?"
Ia menambahkan, lonjakan biaya bahan baku ini otomatis mendongkrak ongkos produksi di industri hilir. Akibatnya, harga produk akhir mulai dari bungkus makanan, botol minuman, sampai kemasan obat ikut terdorong naik.
UMKM Makanan Minuman Terpojok
Ini jadi tekanan baru yang serius. Naiknya harga minyak mentah di pasar dunia berimbas langsung ke plastik, dan pelaku UMKM makanan-minuman yang paling merasakan getahnya. Margin keuntungan mereka tiba-tiba menyempit.
Pilihannya pun serba salah: naikkan harga jual dan risiko kehilangan pelanggan, kurangi porsi, atau terpaksa menelan rugi. Bagi usaha skala sangat kecil, goncangan biaya produksi seperti ini bisa langsung mengancam arus kas dan kelangsungan operasional.
Di sisi lain, konsumen akhirnya juga ikut menanggung beban. Harga jajanan atau minuman kemasan dipastikan bakal ikut naik. Bahkan, beberapa pedagang sudah mulai mengurangi ukuran kemasan diam-diam, sebagai cara bertahan.
Masalah Ketergantungan Impor
Akar masalahnya sebenarnya sudah lama: ketergantungan impor yang terlalu tinggi. Fajar Budiono dari Inaplas bilang, sekitar 70% bahan baku plastik kita masih diimpor, terutama dari Timur Tengah. Jadi, ya wajar saja kalau gejolak di sana langsung bikin kita kelabakan.
Kondisi ini membuat harga domestik sangat rentan. Fluktuasi global sedikit saja, industri dalam negeri langsung goyah.
Pemerintah Cari Jalan Keluar
Merespons keluhan yang berdatangan, Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengaku sudah menerima banyak laporan. Pemerintah, lewat para pejabat eselon, kini sedang berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk cari solusi.
Tapi jangan berharap cepat. Maman menyebut pembahasan kebijakan masih berlangsung.
"Langkah konkretnya seperti apa, saya rasa masih terlalu dini untuk diumumkan," jelasnya. "Biarkan ini dibahas dulu secara mendalam di tingkat eselon 1 dan 2."
Untuk jangka pendek, ada upaya pengalihan pasokan ke negara yang dianggap lebih stabil, seperti Afrika, India, atau AS. Sayangnya, prosesnya masih berkutat di tahap administrasi.
Mereka berharap, harga bisa stabil kembali kalau rantai pasok dari pasar alternatif ini sudah lancar. Koordinasi dengan Kementerian Perdagangan juga digenjot, salah satunya untuk menyiapkan skenario operasi pasar jika diperlukan.
Namun begitu, bagi pedagang bakso atau penjual jus yang harus beli plastik hari ini, semua rencana itu masih terasa jauh. Mereka butuh solusi yang cepat, sebelum margin tipis yang tersisa benar-benar habis.
Artikel Terkait
Remaja 19 Tahun Perkosa dan Bunuh Siswi SD di Makassar, Polisi Sebut Aksi Sudah Direncanakan
Jadwal Imsak, Buka Puasa, dan Salat di Jakarta Hari Ini, Kamis 28 Mei 2026
AMPI Salurkan Daging Kurban ke Warga Jakarta, Wujud Kepedulian Sosial Pemuda
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Sembilan Wilayah Jawa Tengah hingga Kamis Pagi