Haryo Limanseto memperkuat argumen tersebut dengan perhitungan yang rinci.
"Dalam 5 tahun terakhir, Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS. Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 Ton tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003 persen dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 Juta ton tahun 2025," ungkapnya.
Pondasi Swasembada yang Masih Kuat
Di balik wacana impor terbatas ini, data menunjukkan fondasi ketahanan pangan Indonesia, khususnya beras, tetap kokoh. Berdasarkan proyeksi neraca pangan per awal Januari 2026, total kebutuhan konsumsi beras setahun yang berada di angka 31,1 juta ton masih jauh di bawah proyeksi produksi tahun ini yang diperkirakan mencapai 34,76 juta ton.
Surplus ini bukanlah satu-satunya penyangga. Stok awal tahun 2026 dari carry over tahun sebelumnya juga tercatat dalam jumlah yang besar, yakni 12,4 juta ton. Dengan perhitungan tersebut, stok beras nasional diproyeksikan masih akan tetap aman hingga akhir 2026, berada di kisaran 16,1 juta ton. Kondisi ini menggarisbawahi bahwa kebijakan impor terbatas tersebut ditempuh tanpa tekanan darurat ketersediaan pangan.
Dengan demikian, langkah pemerintah lebih dapat dilihat sebagai bagian dari strategi menjaga hubungan dagang yang baik, sambil tetap mempertahankan kedaulatan dan stabilitas pangan nasional yang telah dibangun.
Artikel Terkait
Pemerintah Bentuk Satgas dan Skema Pembelian untuk Berantas Pengeboran Minyak Ilegal
Kemenhub Siapkan Insentif dan Disinsentif untuk Kejar Target Zero Truk ODOL 2027
Pemerintah Gelontorkan Rp1,7 Triliun untuk Revitalisasi Tebu dan Perketat Impor Gula
Pemerintah Fokuskan Distribusi Motor Listrik untuk Dukung Program Gizi di Daerah Terpencil