Manfaatnya bisa lebih nyata lagi. Kemitraan dengan platform yang sudah mapan memberi akses teknologi, keahlian spesifik, dan jaringan internasional. Hal-hal itulah yang diharapkan bisa mendongkrak kinerja portofolio dan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.
Langkah ini sepertinya sudah dipersiapkan matang. Tidak lama sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto bahkan menggelar Presidential Forum on Strategic Capital & Partnership di Washington D.C. Forum itu mempertemukan pimpinan senior sejumlah lembaga investasi raksasa asal Amerika Serikat.
Bayangkan saja, forum tersebut dihadiri perwakilan dari sekitar dua belas institusi. Secara kolektif, mereka mengelola aset fantastis: lebih dari USD 16 triliun, mencakup hampir semua kelas aset yang jadi target Danantara.
Dari deretan nama yang hadir, banyak yang sudah sangat terkenal di dunia investasi. Sebut saja Global Infrastructure Partners (GIP), KKR, General Atlantic, hingga Warburg Pincus. Lalu ada juga Related Companies, Oaktree, Kayne Anderson, dan Eldridge Industries. Intinya, siapa saja yang berpengaruh di pasar private dan aset riil, tampaknya hadir.
Bagi banyak pengamat, forum tersebut jelas sebuah tonggak. Ia menandai dimulainya strategi ekspansi global Danantara yang lebih agresif, sebagai bagian dari pengembangan portofolio jangka panjang dan pendekatan pengelolaan aset yang benar-benar berbasis institusional.
Artikel Terkait
Pemerintah dan Arab Saudi Pastikan Haji 2026 Aman dan Biaya Turun Rp2 Juta
Pemerintah Jamin Biaya Haji 2026 Tak Naik Meski Ada Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah Alokasikan Rp1,77 Triliun APBN untuk Tanggung Kenaikan Biaya Haji Akibat Lonjakan Avtur
Presiden Prabowo Tegaskan Kunjungan Luar Negeri untuk Jamin Pasokan Minyak