Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menambahkan bahwa kontribusi HVC terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga mengalami peningkatan signifikan. Kontribusinya naik 155 basis poin, dari 25,45 persen pada 2024 menjadi 27 persen pada 2025, menunjukkan peran yang semakin strategis.
“Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain,” tegas Dian Ediana Rae.
Dukungan Kebijakan dan Program Akselerasi
Di sektor keuangan, pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah yang mencapai 9,66 persen pada akhir 2025 turut didorong oleh kebijakan insentif dari otoritas. Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah senilai Rp35 triliun telah dimanfaatkan hingga 4,49 persen dari batas maksimal 5,5 persen per Desember 2025.
Selain itu, berbagai program akselerasi seperti Bulan Pembiayaan Syariah terbukti efektif mendongkrak penyaluran kredit. Pada 2025, realisasi program tersebut mencapai Rp939 miliar, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp589 miliar.
“Capaian ini menunjukkan daya tahan dan kontribusi nyata sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Destry Damayanti.
Dengan fondasi yang semakin kuat dan dukungan kebijakan yang tepat, industri perbankan syariah Indonesia dipandang telah berada pada jalur yang tepat untuk terus berkontribusi positif terhadap perekonomian, sekaligus mengonsolidasikan ketahanannya menghadapi tantangan ke depan.
Artikel Terkait
Pemerintah Mulai Bangun 324 Rumah Tapak untuk Warga Bantaran Rel di Senen
Prabowo Bawa Pulang Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan
Program Motis Lebaran 2026 Lampaui Target, Angkut Lebih dari 12.400 Sepeda Motor
Analisis: Kerugian AS Capai Rp817 Triliun dalam Sebulan Bentrokan dengan Iran