MURIANETWORK.COM - Industri perbankan syariah Indonesia mencatatkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2025, dengan total aset mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Data resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan aset perbankan syariah menembus angka Rp1.067,73 triliun, tumbuh hampir 9 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang kuat juga terlihat pada sisi pembiayaan dan dana pihak ketiga, mengindikasikan sektor ini terus berkembang di tengah dinamika ekonomi global.
Kinerja Perbankan Syariah Tembus Rekor
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam keterangan tertulisnya, menyoroti pencapaian tersebut sebagai momentum yang membanggakan. Selain aset, sisi pembiayaan juga menunjukkan tren positif dengan nilai mencapai Rp705,22 triliun, tumbuh 9,58 persen secara tahunan. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai Rp892,99 triliun, dengan pertumbuhan yang bahkan lebih tinggi di angka 10,14 persen.
“Sisi pembiayaan juga menunjukkan kinerja baik dengan nilai pembiayaan mencapai Rp705,22 triliun atau tumbuh 9,58 persen yoy,” ungkapnya.
OJK sendiri menyatakan optimisme bahwa tren positif ini akan berlanjut di tahun 2026, seiring dengan prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, lembaga pengawas itu juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai risiko eksternal, seperti gejolak geopolitik dan ketidakpastian global yang masih membayangi.
Ketahanan Sektor Ekonomi dan Keuangan Syariah
Pertumbuhan perbankan syariah berjalan seiring dengan ketahanan yang ditunjukkan oleh sektor ekonomi dan keuangan syariah secara keseluruhan. Pada tahun 2025, sektor Halal Value Chain (HVC) tumbuh 6,2 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11 persen. Kinerja ini ditopang oleh subsektor unggulan seperti makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menambahkan bahwa kontribusi HVC terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga mengalami peningkatan signifikan. Kontribusinya naik 155 basis poin, dari 25,45 persen pada 2024 menjadi 27 persen pada 2025, menunjukkan peran yang semakin strategis.
“Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain,” tegas Dian Ediana Rae.
Dukungan Kebijakan dan Program Akselerasi
Di sektor keuangan, pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah yang mencapai 9,66 persen pada akhir 2025 turut didorong oleh kebijakan insentif dari otoritas. Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah senilai Rp35 triliun telah dimanfaatkan hingga 4,49 persen dari batas maksimal 5,5 persen per Desember 2025.
Selain itu, berbagai program akselerasi seperti Bulan Pembiayaan Syariah terbukti efektif mendongkrak penyaluran kredit. Pada 2025, realisasi program tersebut mencapai Rp939 miliar, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp589 miliar.
“Capaian ini menunjukkan daya tahan dan kontribusi nyata sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Destry Damayanti.
Dengan fondasi yang semakin kuat dan dukungan kebijakan yang tepat, industri perbankan syariah Indonesia dipandang telah berada pada jalur yang tepat untuk terus berkontribusi positif terhadap perekonomian, sekaligus mengonsolidasikan ketahanannya menghadapi tantangan ke depan.
Artikel Terkait
Ekspor Kopi Indonesia Tembus USD 1,63 Miliar, Pemerintah Fokuskan Hilirisasi
Jay Idzes Cetak Performa Solid Meski Sassuolo Kalah dari Udinese
Lebih dari 40.000 Peserta BPJS PBI JKN Kembali Aktif, 2.000 Beralih ke Mandiri
Jenazah dalam Koper Ditemukan Tertimbun Pasir di Rumah Kosong Brebes