Harga Minyak Melonjak Tajam Usai Trump Ancam Serang Iran, Protokol Hormuz Dikembangkan

- Jumat, 03 April 2026 | 09:15 WIB
Harga Minyak Melonjak Tajam Usai Trump Ancam Serang Iran, Protokol Hormuz Dikembangkan

HOUSTON Pasar minyak dunia kembali diguncang. Kamis lalu, 2 April 2026, harga minyak melesat tajam. Pemicunya? Pernyataan keras dari Presiden Donald Trump yang berjanji akan menyerang Iran "dengan sangat keras" dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Ancaman itu langsung menyalakan kembali kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Di tengah ketegangan itu, muncul kabar dari Teheran. Menurut siaran televisi pemerintah Iran, negara tersebut sedang menyusun sebuah protokol dengan Oman. Tujuannya, untuk mengatur lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz jalur air yang sangat vital bagi perdagangan energi global.

Dampaknya di pasar terlihat jelas. Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juni melonjak 7,6 persen, mencapai level USD 108,82 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dramatis lagi, sekitar 11,7 persen, menjadi USD 111,84 per barel.

Protokol Hormuz: Fasilitasi atau Pembatasan?

Menurut kantor berita pemerintah IRNA, protokol yang sedang dikembangkan dengan Oman itu bertujuan memantau lalu lintas kapal. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang dikutip dalam laporan tersebut, menegaskan bahwa ini bukan untuk membatasi.

"Protokol ini bertujuan untuk memfasilitasi perjalanan yang aman dan memberikan layanan yang lebih baik kepada kapal," kata Gharibabadi.

Namun begitu, ada detail lain yang mencuri perhatian. Dalam sebuah wawancara dengan Sputnik, Gharibabadi juga menyebutkan bahwa Iran akan menetapkan tarif bagi kapal yang melintas. Langkah ini sebelumnya telah dicap AS sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima."

Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati titik sempit ini. Penutupan efektifnya sejak konflik memanas telah memicu lonjakan harga dan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak. Kabar tentang protokol sempat meredam kenaikan harga sesaat, tapi tidak lama. Harga kembali merangkak naik mendekati level tertinggi harian.

Gencatan Senjata yang Masih Kabur

Harapan akan meredanya ketegangan awal pekan itu langsung pupus. Dalam pidato yang disiarkan televisi, Trump menyatakan militer AS akan meningkatkan operasinya terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan. Tujuannya, kata dia, mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu tempat mereka seharusnya berada," tegas Trump.

Dia menambahkan, "Sementara itu, diskusi sedang berlangsung. Kita memiliki semua kartu; mereka tidak memiliki apa pun."

Yang menarik, Trump sama sekali tidak menyebut apakah gencatan senjata sudah di depan mata. Padahal sebelumnya, lewat sebuah unggahan media sosial, dia mengklaim bahwa presiden baru Iran telah meminta gencatan senjata. Klaim itu langsung dibantah keras oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Media pemerintah di Teheran melaporkan bahwa mereka sama sekali tidak meminta hal tersebut.

Ketidakjelasan ini membuat analis pasar tetap waspada. "Kami terus melihat risiko kenaikan harga minyak dan gas dalam jangka pendek, selama kami tidak memiliki visibilitas mengenai dimulainya kembali aliran yang signifikan melalui Hormuz," tulis analis UBS pimpinan Henri Patricot dalam sebuah catatan.

Mereka memprediksi stok minyak global mungkin telah turun ke level rata-rata lima tahun pada akhir Maret. Jika gangguan terus berlanjut, angka itu bisa jatuh lebih rendah lagi di akhir April. Bahkan, harga berpotensi menembus USD 150 per barel jika tidak ada tanda-tanda perbaikan.

Risiko yang Masih Menggantung

Intinya, ketidakpastian masih menjadi raja. Investor tampaknya belum sepenuhnya yakin dengan upaya-upaya meredakan gangguan di Selat Hormuz. Jalur itu tetap tertutup secara efektif, tanpa sinyal jelas kapan aliran normal bisa kembali.

Di sisi lain, laporan dari Badan Informasi Energi (EIA) AS justru mencatat peningkatan persediaan minyak mentah dalam negeri sekitar 5,5 juta barel pada pekan akhir Maret. Angka ini melampaui ekspektasi kenaikan yang moderat. Namun, data dari satu negara tampaknya belum cukup untuk menenangkan pasar yang dilanda kecemasan geopolitik tingkat tinggi.

Semuanya kini tergantung pada kata-kata dan langkah berikutnya dari Washington dan Teheran. Pasar hanya bisa menunggu, dan bersiap untuk segala kemungkinan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar