Tapi investor sepertinya punya kekhawatiran lain. Mereka memandang rencana pengeluaran raksasa itu sebagai beban yang bisa menggerus profitabilitas di masa depan. “Kami memiliki permintaan yang sangat tinggi. Pelanggan benar-benar menginginkan AWS untuk beban kerja inti dan AI,” kata Jassy mencoba meyakinkan.
Namun begitu, pasar tampaknya belum sepenuhnya percaya. Fenomena serupa juga terjadi pada raksasa teknologi lain. Saham Microsoft dan Alphabet (induk Google) ikut terperosok, meski laporan pendapatan kuartalan mereka juga terlihat bagus. Fokus investor jelas tertuju pada gelontoran miliaran dolar yang dialirkan ke infrastruktur komputasi awan dan AI oleh ketiga perusahaan ini.
Intinya, semua berlomba membangun kapasitas. Tapi ada pertanyaan besar yang menggantung: apakah manfaat dari investasi gila-gilaan ini akan sebanding dengan biayanya? Banyak investor yang ragu, dan kekhawatiran itulah yang tercermin dari merahnya grafik saham hari ini.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Hadapi Tekanan Ranking FIFA Saat Hadapi Saint Kitts and Nevis
Larangan Truk di Tol Picu Kepadatan Ekstra di Jalur Pantura Cirebon
ASDP Tambah Lajur Antrean Motor di Bakauheni untuk Arus Balik Lebaran
BGN Bekukan SPPG Mitra Usai Video Joget di Dapur Tanpa APD Viral