Laporan keuangan Amazon yang baru dirilis ternyata jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, raksasa teknologi itu membukukan laba yang fantastis, mencapai USD21,2 miliar. Namun di sisi lain, justru sentimen negatif yang mendominasi pasar. Sahamnya terjun bebas, anjlok lebih dari 11 persen dalam satu hari perdagangan.
Penyebabnya? Rencana investasi besar-besaran mereka ke depan, khususnya di bidang kecerdasan buatan. Andy Jassy, sang CEO, dengan gamblang mengumumkan proyeksi belanja modal yang mencengangkan. “Dengan permintaan yang begitu kuat untuk penawaran kami yang sudah ada dan peluang penting seperti AI, chip, robotika, dan satelit orbit rendah, kami memperkirakan menginvestasikan sekitar USD200 miliar dalam belanja modal di seluruh Amazon pada 2026,” ujarnya.
Angka itu jauh melampaui perkiraan analis yang sebelumnya berkisar di USD147 miliar untuk tahun ini. Tampaknya, Amazon tak mau ketinggalan dalam perlombaan AI yang semakin panas.
Sebenarnya, kinerja kuartalan mereka solid banget. Penjualan bersih menyentuh USD213,4 miliar, didorong oleh beberapa pilar bisnis utama. AWS, unit komputasi awannya, tetap jadi mesin uang dengan penjualan USD35,6 miliar naik 24 persen dari tahun lalu. Bisnis ritel dan periklanan juga tumbuh dengan baik.
Tapi investor sepertinya punya kekhawatiran lain. Mereka memandang rencana pengeluaran raksasa itu sebagai beban yang bisa menggerus profitabilitas di masa depan. “Kami memiliki permintaan yang sangat tinggi. Pelanggan benar-benar menginginkan AWS untuk beban kerja inti dan AI,” kata Jassy mencoba meyakinkan.
Namun begitu, pasar tampaknya belum sepenuhnya percaya. Fenomena serupa juga terjadi pada raksasa teknologi lain. Saham Microsoft dan Alphabet (induk Google) ikut terperosok, meski laporan pendapatan kuartalan mereka juga terlihat bagus. Fokus investor jelas tertuju pada gelontoran miliaran dolar yang dialirkan ke infrastruktur komputasi awan dan AI oleh ketiga perusahaan ini.
Intinya, semua berlomba membangun kapasitas. Tapi ada pertanyaan besar yang menggantung: apakah manfaat dari investasi gila-gilaan ini akan sebanding dengan biayanya? Banyak investor yang ragu, dan kekhawatiran itulah yang tercermin dari merahnya grafik saham hari ini.
Artikel Terkait
Danantara Mulai Konstruksi Enam Proyek Hilirisasi Senilai Rp118 Triliun
Menkeu Lantik 40 Pejabat Pajak Baru, Respons Penggeledahan KPK
Menteri ESDM Soroti Izin Tambang Dikuasai Perusahaan Jakarta, Janji Kembalikan ke Daerah
Wamenkes Tegaskan Rumah Sakit Dilarang Tolak Pasien karena Status BPJS Nonaktif