Kapal induk AS USS Abraham Lincoln, bersama tiga kapal perang pendampingnya, telah berlabuh di perairan Timur Tengah. Kedatangan armada tempur ini bukan tanpa alasan. Presiden Donald Trump sebelumnya sudah mengeluarkan ancaman keras ke Iran, menyusul gelombang protes anti-pemerintah yang melanda negara tersebut.
Menurut sejumlah saksi, Trump pekan lalu memberi sinyal waspada. "Kami punya armada besar yang menuju ke arah itu," ujarnya kepada para wartawan. "Mungkin kami tidak perlu menggunakannya." Ancaman itu jelas: AS siap bertindak jika Teheran dianggap menindas demonstran secara brutal atau melakukan eksekusi massal terhadap tahanan.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (Centcom) punya penjelasan resmi yang terdengar lebih diplomatis. Lewat sebuah pernyataan di media sosial, mereka menyebut kelompok serang itu dikerahkan untuk "meningkatkan keamanan dan stabilitas regional." Namun, posisi mereka saat ini cukup menarik: armada tersebut berada di Samudra Hindia, bukan di Laut Arab yang berbatasan langsung dengan Iran. Sebuah posisi yang strategis, bisa dibilang.
Protes di Iran sendiri sudah memakan korban yang tidak sedikit. Data dari para aktivis menyebutkan hampir 6.000 orang tewas dan puluhan ribu ditahan. Pemerintah Iran tentu punya angka resmi yang jauh lebih rendah, sekitar 3.117 jiwa. Perbedaan angka ini menunjukkan betapa panasnya situasi di lapangan.
Artikel Terkait
Takaichi Pasang Taruhan: Mundur Jika Koalisi Tak Kuasai Mayoritas Kursi
Demi Utang Rp35 Juta, Anak di Lombok Barat Bunuh dan Bakar Ibunya Sendiri
29 Desa di Sumatera Hilang Ditelan Banjir dan Longsor, Menteri Yandri Ungkap Langkah Darurat
Anggaran Rp74 Triliun Disiapkan untuk Tangani Bencana hingga 2028