MURIANETWORK.COM - Pasar saham Amerika Serikat mengalami tekanan signifikan pada Kamis (12/2/2026), ditutup dengan penurunan tajam di ketiga indeks utamanya. Aksi jual besar-besaran, terutama di sektor teknologi yang menjadi penopang pasar, dipicu oleh laporan keuangan mengecewakan dari Cisco Systems. Sentimen investor juga dibebani oleh kehati-hatian menjelang rilis data inflasi kunci, yang mendorong perpindahan aset dari saham ke obligasi pemerintah.
Tekanan Berat di Indeks Utama
Kerugian terbesar terjadi di Nasdaq Composite, indeks yang dipenuhi perusahaan teknologi, yang anjlok 2 persen ke level 22.597,15 poin. Sementara itu, S&P 500 turun 1,6 persen menjadi 6.833,54 poin. Dow Jones Industrial Average, yang juga mencakup raksasa teknologi, tidak luput dari tekanan dan merosot 1,3 persen ke 49.451,88 poin. Penutupan di bawah level psikologis 50.000 ini merupakan yang pertama bagi Dow sejak akhir pekan sebelumnya.
Analis pasar melihat kondisi ini sebagai tanda kerapuhan yang muncul akibat ketidakpastian kebijakan dan data ekonomi yang beragam.
"Antara dua penutupan pemerintahan dan pergantian Ketua Fed yang akan datang, pasar terbukti jauh lebih rapuh dalam beberapa hari terakhir karena laporan ekonomi yang tertunda dan beragam menyebabkan gambaran ekonomi yang lebih suram daripada yang diharapkan banyak investor," ungkap Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management.
Data Ekonomi Campur Aduk dan Antisipasi Inflasi
Di balik gejolak pasar, data ekonomi yang dirilis memberikan sinyal beragam. Laporan ketenagakerjaan pada Rabu menunjukkan penambahan 130.000 pekerjaan non-pertanian, angka yang melampaui ekspektasi dan menurunkan tingkat pengangguran menjadi 4,3 persen. Data ini sekaligus mengonfirmasi ketahanan ekonomi, namun juga meredam harapan investor atas pemotongan suku bunga agresif dari Federal Reserve dalam waktu dekat.
Namun, gambaran itu tidak sepenuhnya solid. Revisi terhadap data historis justru mengungkap kelemahan tersembunyi di pasar tenaga kerja selama setahun terakhir. Data klaim pengangguran mingguan yang dirilis Kamis juga datang lebih tinggi dari perkiraan, diikuti oleh penjualan rumah bekas yang anjlok ke level terendah dalam lebih dari setahun. Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat investor mengambil posisi hati-hati.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Sinyal Damai Trump untuk Konflik Iran
Fore Kopi Indonesia Catat Laba Bersih Rp90 Miliar, Naik 55% pada 2025
Pemerintah Resmi Terapkan WFH Setiap Jumat untuk ASN Mulai April 2026
Semen Baturaja Catat Kenaikan Pendapatan dan Laba Bersih di 2025