Lantas, siapa yang menjadi sasaran utama pindar ini? Ternyata, segmentasi debiturnya banyak menyasar pelaku ekonomi mikro. Kenaikan pengguna di level masyarakat bawah ini disinyalir juga menjangkau pelaku UMKM, dengan melibatkan lender non-perbankan.
Huda punya analisisnya sendiri soal penyebabnya. "Salah satu faktornya tadi ada credit gap. Jadi permintaannya tetap tinggi, namun di sisi lain perbankan tidak bisa catch up karena berbagai faktor, termasuk administrasi yang berbelit," ujarnya.
Namun begitu, ada satu kebijakan pemerintah yang turut disorotnya, yakni soal dana Rp200 triliun dari Menteri Keuangan Purbaya Sadewa untuk perbankan. Kebijakan ini menarik, karena justru menyoroti celah antara penyaluran pinjaman perbankan dan pindar yang semakin lebar.
"Jadi ini cukup menarik," kata Huda mencermati data.
"Kredit kita minus sampai 0,65 persen, pertumbuhannya minus. Tapi di satu sisi, permintaan untuk kredit UMKM non-KUR justru meningkat. Ini jadi anomali. Apakah kredit UMKM memang rendah, atau mereka beralih (switching) ke pindar?" tanyanya, mengakhiri paparan dengan pertanyaan yang menggantung.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas