Lalu, bagaimana rinciannya? Data dari Kemenkes menyebut, skrining kesehatan itu tersebar di 38 provinsi. Partisipasinya masif, dengan lebih dari 10.000 Puskesmas terlibat tepatnya 10.225 unit.
Yang menarik, komposisi pesertanya berubah sepanjang waktu. Awalnya, di Maret 2025, mayoritas peserta adalah perempuan, mencapai 64,1%. Namun begitu, trennya bergeser. Menjelang akhir tahun, tepatnya Desember 2025, partisipasi laki-laki merangkak naik signifikan menjadi 45,61%.
Ini jadi modal berharga. Budi pun menegaskan bahwa program ini harus berlanjut. Ia berharap penanganan bagi mereka yang hasil skriningnya kurang sehat bisa optimal.
“Ini harus terus dilanjutkan untuk memastikan mimpi Bapak Presiden agar masyarakat kita tetap sehat itu bisa tercapai,”
pungkas Menkes Budi.
Jadi, target 136 juta itu bukan sekadar angka. Lebih dari itu, ia adalah pintu masuk untuk sistem penanganan yang lebih serius.
Artikel Terkait
Hujan Deras Seminggu, Mal di Jakarta Sepi Pengunjung
Benteng Pendem Ambarawa Bangkit Setelah Revitalisasi Rp156,8 Miliar
Bareskrim Geledah Kantor DSI, Kasus Dugaan Penipuan Syariah Naik ke Penyidikan
Hujan Tak Halangi 400 Pelajar Berdebat ala Sidang PBB di Jakarta