Likuiditas Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Tembus Rp10.133 Triliun di Akhir 2025

- Jumat, 23 Januari 2026 | 11:20 WIB
Likuiditas Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Tembus Rp10.133 Triliun di Akhir 2025

Likuiditas perekonomian Indonesia mencatatkan angka yang cukup signifikan di penghujung tahun 2025. Bank Indonesia melaporkan, uang beredar dalam arti luas, atau yang dikenal sebagai M2, telah menyentuh level Rp10.133,1 triliun pada Desember lalu. Yang menarik, pertumbuhannya melesat hingga 9,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini jelas menunjukkan akselerasi, mengingat di bulan November pertumbuhannya masih bertengger di 8,3 persen.

Lalu, apa yang mendorong hal ini? Menurut penjelasan BI, perkembangan itu tak lepas dari kontribusi dua komponen utama.

“Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,0 persen yoy dan uang kuasi sebesar 5,5 persen yoy,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Jumat (23/1/2026).

Dia membeberkan, peningkatan M2 itu terutama dipengaruhi oleh dua faktor kunci. Pertama, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang tumbuh cukup pesat, dan kedua, perkembangan penyaluran kredit yang juga menunjukkan tren positif.

Secara rinci, tagihan bersih ke Pempus naik 13,6 persen. Angka ini melonjak dibanding capaian bulan sebelumnya yang hanya 8,7 persen. Di sisi lain, penyaluran kredit juga ikut merangkak naik. Pada Desember, pertumbuhannya tercatat 9,3 persen, lebih tinggi dari November yang 7,9 persen.

Namun begitu, tidak semua komponen bergerak naik. Aktiva luar negeri bersih justru menunjukkan perlambatan, tumbuh 8,9 persen setelah sebelumnya di bulan November mencapai 9,7 persen.

Sementara itu, cerita yang berbeda datang dari Uang Primer atau M0 adjusted. Komponen ini justru mengalami pertumbuhan yang lebih kencang, yakni 16,8 persen di Desember. Padahal, bulan sebelumnya angkanya masih 13,3 persen. Nilainya pun membengkak jadi Rp2.367,8 triliun. Kenaikan ini tak lepas dari dua hal: giro bank umum di BI yang melonjak 35,1 persen dan uang kartal yang beredar yang tumbuh 12,9 persen.

Ramdan menambahkan konteks penting soal angka M0 ini.

“Berdasarkan faktor yang mempengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas atau pengendalian moneter adjusted,” jelasnya.

Singkatnya, data terbaru BI ini menggambarkan dinamika likuiditas yang cukup hidup di akhir tahun 2025, dengan beberapa pendorong utama yang bekerja sekaligus.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar