Minggu pagi ini, dunia dikejutkan oleh berita yang nyaris tak terpercaya. Militer Amerika Serikat dilaporkan telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya. Operasi militer yang dramatis ini langsung memicu gelombang reaksi dari berbagai penjuru.
Di markas besar PBB di New York, kekhawatiran pun mengemuka. Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, Sekjen PBB Antonio Guterres tidak menyembunyikan kegelisahannya. Menurutnya, langkah AS ini sangat mengkhawatirkan.
"Ini dapat menciptakan preseden berbahaya," ujar Dujarric, Minggu (4/1/2026).
"Terlepas dari situasi politik di Venezuela, sederet perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya. Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB," lanjutnya.
Nada prihatin itu terus digaungkan. Pihak PBB, kata Dujarric, sangat khawatir aturan hukum internasional tidak dihormati dalam insiden ini. "Kami sangat prihatin dengan eskalasi baru-baru ini di Venezuela, sekaligus memperingatkan potensi implikasi yang mengkhawatirkan bagi kawasan tersebut," katanya menambahkan. Guterres pun mendesak semua pihak di Venezuela untuk segera duduk dalam dialog yang inklusif.
Artikel Terkait
Raja Tuna Jepang Rogoh Rp54,6 Miliar Demi Ikan Pembuka Tahun Baru
BNN Gerebek Pabrik Liquid Vape dan Happy Water di Apartemen Mewah Ancol
Prabowo Minta Program Makan Gratis Dibenahi, Anggaran Rp335 Triliun Dinilai Cukup
34 Kota Siap Olah Sampah Jadi Listrik, Proyek Dimulai 2026