Adegan orang sholat terus diganggu makhluk halus seakan jadi template wajib. Tujuannya cuma satu: bikin ironi bahwa bahkan saat beribadah pun, kau tidak aman. Narasi semacam ini, kalau terus diproduksi, berpotensi mengikis kesakralan ibadah itu sendiri.
Simbol agama seharusnya sumber ketenangan. Tapi dalam logika film horor komersial, simbol itu justru dibenturkan dengan kekuatan jahat demi efek dramatis. Sering digambarkan doa-doa tidak mempan, atau ustadz kalah sakti dari iblis. Eksploitasi yang sangat tidak etis. Agama cuma jadi alat untuk mainin emosi penonton, demi tiket laris.
Ancaman di Balik Layar untuk Mental Remaja
Dampaknya ternyata lebih serius dari sekadar mimpi buruk. Riset Mahrita dan Surawan menyoroti kaitan antara desakralisasi nilai mistis dengan resiliensi psikologis remaja. Fase remaja kan masa pencarian jati diri yang rentan.
Kalau terus-terusan dikasih tontonan yang gambar dunia gaib sebagai ancaman tak terkendali, ya tingkat kecemasan bisa naik. Banyak yang jadi takut sendirian, paranoid di tempat gelap, atau cemas berlebihan pada hal-hal yang sebenarnya wajar. Ketahanan mentalnya tergerus.
Ini makin parah kalau minim pendampingan orang tua. Banyak keluarga yang ikut larut euforia film horor, tanpa sadar dampaknya pada mental anak. Alhasil, generasi muda bisa tumbuh jadi individu yang mudah cemas dan gagap memaknai realitas. Alam bawah sadarnya udah dipenuhi imajinasi horor buatan industri.
Ada Jalan Keluar, Asal Mau
Kondisi ini nggak boleh dibiarkan. Kritik bukan berarti melarang total film horor. Genre ini sah saja sebagai ekspresi seni. Tapi pendekatannya harus diubah. Sineas punya tanggung jawab moral buat riset mendalam sebelum angkat elemen budaya atau agama. Jangan sampai warisan leluhur jadi korban distorsi demi cuan sesaat.
Sudah waktunya industri film kita naik kelas. Bikinlah horor yang cerdas. Yang nggak cuma andalkan jumpscare, tapi juga narasi kuat dan menghormati akar budaya. Kembalikan fungsi folklore sebagai media pendidikan moral, bukan sekadar teror. Mitos lokal bisa jadi sarana mengenalkan sejarah atau kritik sosial, seperti yang dilakukan sineas visioner di negara lain.
Penonton juga pegang peran kunci. Kita harus lebih kritis milih tontonan. Jangan mudah tergiur promosi viral yang sensasional. Beri apresiasi pada karya yang berani tawarkan perspektif baru dan menghargai budaya. Kalau pasar mulai menuntut kualitas, produser pasti akan berbenah.
Pada akhirnya, kuntilanak, pocong, dan segala entitas mistis Nusantara adalah kekayaan cerita bangsa kita. Jangan biarkan mereka terus dikapitalisasi sampai kehilangan makna. Mari tempatkan kembali mistisisme Nusantara pada porsinya: warisan budaya yang penuh misteri dan kearifan. Bukan cuma badut penakut penghasil uang. Kebanggaan pada budaya sendiri dimulai dari cara kita memperlakukannya dengan hormat bahkan di dalam bioskop yang gelap gulita sekalipun.
Artikel Terkait
Tito Desak Cairkan Rp10,6 Triliun untuk Sumatera yang Porak-poranda
Polisi Amankan Dua Pria di Tangerang, Sita Ratusan Butir Tramadol Ilegal
Berguinho Bertekad Pertahankan Puncak Klasemen untuk Persib
Jakarta Terengah-engah, Ruang Hijau Baru 5,6 Persen