Kuntilanak dan Pocong: Ketika Mistis Nusantara Hanya Jadi Mesin Cuan di Layar Lebar

- Rabu, 21 Januari 2026 | 23:06 WIB
Kuntilanak dan Pocong: Ketika Mistis Nusantara Hanya Jadi Mesin Cuan di Layar Lebar

Kalau kamu main ke bioskop akhir-akhir ini, pasti langsung tahu. Poster-poster di lobi dipenuhi wajah perempuan berambut panjang yang menyeringai, kain kafan melotot, atau adegan ritual yang bikin merinding. Itu yang mendominasi. Rasanya, layar lebar kita lagi kerasukan massal.

Hampir tiap minggu, judul baru muncul dengan premis yang itu-itu lagi: mengeksploitasi ketakutan kita pada hal gaib. Ini bukan tren sesaat lagi, tapi udah kayak obsesi industri yang kebablasan. Rumah produksi seakan berlomba memeras cerita mistis lokal sampai kering, cuma buat dapetin angka penonton. Nilai budaya? Seringkali terabaikan begitu saja.

Ketika Rasa Takut Jadi Komoditas, Kreativitas Mati

Jujur saja, industri film kita terjangkit penyakit akut: komodifikasi. Seperti yang pernah disorot Mahrita dan Surawan, dinamika sosial dan selera pasar membentuk warna baru sinema. Horor sekarang bukan soal seni menakut-nakuti yang elegan. Ia lebih mirip mesin pencetak uang atau ‘cuan’, kalau pakai bahasa gaulnya.

Produser paham betul. Masyarakat Indonesia punya kedekatan kultural dengan hal mistis, jadi pasar untuk genre ini selalu ada. Tapi akibatnya, kualitas cerita kerap dikesampingkan. Banyak film cuma andalkan jumpscare murahan dan suara memekakkan telinga. Atmosfer mencekam dan esensi cerita yang kuat? Hilang.

Penonton cuma dikasih teror visual yang dangkal. Hantu di layar jadi kayak boneka yang digerak-gerakin cuma buat kejutin penonton. Ini bentuk kemalasan kreatif yang nyata. Kalau sineas cuma ambil kulit luar sebuah mitos tanpa gali filosofinya, ya yang terjadi pendangkalan budaya. Sistematis.

Nilai Mistis Nusantara yang Tergusur

Dulu, entitas gaib ditempatkan dengan rasa hormat. Ada tata krama antara dunia kita dan dunia lain. Tapi layar perak mengubah segalanya. Sebuah ulasan tajam dari Netralnews tahun lalu bahkan bilang, industri film horor Indonesia seolah sedang menistakan budaya Jawa. Keras? Mungkin. Tapi ada dasarnya.

Ambil contoh ritual ruwatan. Dalam tradisi aslinya, ini proses penyucian diri yang sakral. Di film horor? Seringkali dipelintir jadi ritual pengundang setan atau ilmu hitam yang seram. Distorsi kayak gini bahaya. Bisa menyesatkan pemahaman generasi muda terhadap warisan leluhurnya sendiri.

Sosok hantu lokal pun nasibnya sama. Kuntilanak atau sundel bolong dalam cerita rakyat sering merepresentasikan tragedi. Sekarang, mereka cuma monster haus darah yang ingin membunuh. Nilai tragis dan pesan moralnya hilang, diganti visual menyeramkan untuk hiburan semata. Inilah desakralisasi. Sesuatu yang sakral, jadi cuma badut penakut di pasar hiburan.

Agama Jadi Bumbu Sensasi

Masalah lain yang bikin resah: penggunaan simbol agama secara sembarangan. Sekarang banyak film yang pakai atribut keagamaan sholat, ayat suci, pemuka agama cuma sebagai bumbu penyedap rasa takut.


Halaman:

Komentar