Ekspansi Dua Liga Sepak Bola Putri: Dari Kalimantan hingga Solo

- Rabu, 21 Januari 2026 | 16:54 WIB
Ekspansi Dua Liga Sepak Bola Putri: Dari Kalimantan hingga Solo

Kalau ngomongin perkembangan sepak bola wanita di Indonesia, tahun 2026 ini kayaknya bakal seru banget. Di akar rumput, ada angin segar berembus. Dua kompetisi penting MilkLife Soccer Challenge (MLSC) dan HYDROPLUS Soccer League ternyata punya rencana ekspansi yang cukup menggembirakan.

MLSC, misalnya, bakal melebarkan sayapnya ke dua kota baru di Kalimantan. Tapi itu belum semuanya. Rupanya, HYDROPLUS Soccer League juga ikut meramaikan peta kompetisi dengan berencana menambah satu kota penyelenggaraan lagi.

Kota yang dimaksud adalah Solo. Dengan masuknya Kota Bengawan ini, totalnya jadi lima kota yang bakal menggelar liga untuk kategori U-15 dan U-18 itu. Sebelumnya, Jakarta, Bandung, Kudus, dan Surabaya sudah lebih dulu merasakan geliat kompetisinya.

Rencana ini diungkapkan langsung oleh Teddy Tjahjono, sang Program Director untuk kedua ajang tersebut. Ia berbicara usai konferensi pers MilkLife Soccer Challenge Seri 2 di Plaza Senayan, Selasa lalu.

Menurut Teddy, keputusan untuk menambah kota ini gak datang tiba-tiba. Ini murni respons atas animo peserta yang terus melonjak dari tahun ke tahun. “Naiknya jumlah peserta MLSC itu yang jadi pertimbangan utama,” jelasnya.

Dengan tambahan Samarinda dan Banjarmasin, panitia memproyeksikan peserta MLSC bisa mencapai angka 45 ribu lebih per tahun. Nah, di sinilah masalah baru muncul atau lebih tepatnya, peluang.

Anak-anak yang ikut MLSC itu kan bakal tumbuh besar. Saat mereka menginjak usia 13 atau 14 tahun, mereka butuh wadah kompetisi yang lebih tinggi lagi. Dan HYDROPLUS Soccer League hadir untuk menjawab kebutuhan itu.

“Rencananya, sekitar Agustus atau September nanti, kita tambah di Solo. Jadi total lima kota untuk HYDROPLUS Soccer League U-15 dan U-18. Semakin banyak kompetisi yang kita jalankan, artinya muara untuk adik-adik peserta MLSC di sepuluh kota itu semakin jelas,” ujar Teddy.

Ia juga punya harapan untuk masa depan. Bayangkan kalau nanti Samarinda dan Banjarmasin sudah masuk tahun kedua atau ketiga penyelenggaraan. Peserta yang sekarang masih 8 atau 10 tahun, pasti sudah siap naik kelas.

“Mudah-mudahan saat itu kita sudah bisa menyelenggarakan kompetisi untuk usia 15 tahun ke atas di Kalimantan juga,” tambahnya penuh harap.

Di sisi lain, Teddy berharap kolaborasi dengan korporasi seperti Bayan Peduli yang mendukung MLSC di Kalimantan bisa menginspirasi banyak pihak lain. Support dari dunia usaha memang krusial.

“Semoga di pulau-pulau lain, muncul juga korporasi yang punya kepedulian sama. Mari berkolaborasi mengembangkan sepak bola putri,” tutupnya.

Jadi, ceritanya gak cuma tentang tambah satu kota di peta. Ini tentang membangun ekosistem yang berjenjang, dari yang paling dasar sampai ke level yang lebih kompetitif. Dan tahun 2026 ini, langkah awalnya terasa semakin konkret.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar