Di tengah acara penghargaan di gedung Ditjen Bina Bangda, Jakarta, Jumat lalu, Restuardy Daud menyampaikan pesan tegas kepada jajarannya. Dirjen Kemendagri itu mengajak semua pihak untuk mengelola anggaran secara by design. Apa maksudnya? Intinya, anggaran harus dirancang dengan matang, dieksekusi dengan tepat, dan diawasi ketat sampai ke tahap pertanggungjawaban. Tujuannya sederhana tapi krusial: memastikan setiap rupiah benar-benar terasa manfaatnya oleh masyarakat.
"Ini momentum," ujarnya dalam keterangan tertulis di hari berikutnya, Sabtu (7/2/2026).
"Pengelolaan anggaran harus mendorong pertumbuhan dan hasil yang langsung bisa dinikmati rakyat lewat pemerintahan daerah."
Acara yang diberi nama Bangda Awards itu bukan sekadar seremoni. Selain memberikan penghargaan atas kinerja pengelolaan keuangan, momen itu juga digunakan untuk penandatanganan Perjanjian Kinerja tahun 2026. Restuardy, didampingi Sekretaris dan para Direktur di lingkungan Ditjen Bangda, menandatangani komitmen tersebut.
Komitmen itu jadi makin relevan mengingat anggaran yang dikelola tahun depan tak main-main. Untuk tahun 2026, anggaran Ditjen Bina Bangda melonjak signifikan sekitar Rp 459 miliar lebih besar dibanding tahun 2025. Pencapaian tahun ini pun cukup solid, realisasinya menyentuh 99,6 persen. Restuardy punya target yang sedikit lebih tinggi.
"Karena itu, harapan saya di 2026 minimal kita capai 99,7 persen," tuturnya.
Namun begitu, pembicaraan soal anggaran ia sambungkan dengan visi yang lebih besar. Restuardy mengingatkan arahan Presiden Prabowo tentang pentingnya mewujudkan negara sejahtera. Dalam konsep itu, pemerintah punya peran sentral untuk melindungi warganya. Caranya? Lewat penyediaan pendidikan yang layak, fasilitas kesehatan, asuransi sosial, hingga jaminan hari tua. Sistem semacam ini, ungkapnya, bertujuan menciptakan kesetaraan peluang, pemerataan ekonomi, dan tentu saja keadilan.
Di sisi lain, Restuardy tak lupa menyoroti faktor manusia di balik semua rencana itu. Ia menyampaikan arahan dari Presiden dan Mendagri Tito Karnavian tentang pentingnya kompetensi dan loyalitas ASN. Menurutnya, aparatur negara harus menjalankan tugas secara profesional.
"Seharusnya kita semua komitmen terhadap tugas yang diberikan. Ini saya ingatkan," tegasnya.
Prinsipnya, dalam manajemen SDM, karakter ideal terbagi dua: kompeten dan loyal. Kompeten artinya punya kemampuan mengerjakan tugas dengan baik. Sementara loyal lebih pada kesungguhan dalam melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Nah, membangun kedua hal itu butuh pendekatan berbeda. Kompetensi bisa diasah lewat pelatihan atau seminar. Tapi loyalitas? Itu soal motivasi. Restuardy berpendapat, aparatur yang ideal adalah yang punya kedua sifat itu.
"Ini jadi PR masing-masing atasan untuk membangun loyalitas anak buah. Kalau kompetensi bisa dibangun dengan pelatihan. Tapi khusus loyalitas, hanya bisa dengan memotivasi," pungkasnya menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Polisi Inggris Geledah Dua Properti Mantan Dubes AS Terkait Kasus Epstein
Foto Ridwan Kamil di Underpass Dewi Sartika Depok Diganti atas Permintaan Warga
Wakil Ketua MPR: Pasar Karbon Kunci Pembiayaan Transisi Energi Indonesia
Carrick Bawa MU Raih Tiga Kemenangan Beruntun, Fokus ke Laga Kontra Tottenham