MURIANETWORK.COM - Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, memberikan tanggapan mendalam terkait video viral yang menunjukkan kedekatan seorang guru SD dengan siswinya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Menurutnya, insiden ini bukan sekadar kasus iseng, melainkan indikasi kuat dari praktik child grooming yang lebih luas dan sistematis di Indonesia. Jasra menegaskan perlunya kewaspadaan publik terhadap modus kejahatan yang memanfaatkan kerentanan anak dan keluarga ini.
Modus Operandi yang Manipulatif dan Sistematis
Jasra Putra memaparkan bahwa pelaku grooming tidak bertindak secara sembarangan. Mereka biasanya melakukan pendekatan yang terencana, meneliti calon korban melalui media sosial atau pengamatan langsung. Keluarga yang berada dalam kondisi rentan, baik secara ekonomi maupun psikologis, sering kali menjadi sasaran utama.
Pelaku memasuki kehidupan korban dengan menyamar sebagai "pahlawan". Mereka menawarkan bantuan biaya sekolah, melunasi utang keluarga, atau menjanjikan masa depan yang lebih baik. Semua itu bertujuan untuk menciptakan ikatan ketergantungan dan utang budi.
Ketika rasa berutang budi itu terbentuk, kontrol pun perlahan beralih ke tangan pelaku. Situasi ini membuat anak berada dalam posisi tak berdaya, sementara keluarga sering kali enggan melapor karena merasa sungkan atau takut kehilangan bantuan yang telah diterima.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran Lumpuh, Jalur Pantura Pasuruan Terendam Banjir
Rekayasa Lalu Lintas One Way Nasional Dimulai di Tol Kalikangkung untuk Arus Balik Lebaran
Arus Balik Lebaran Padatkan Sejumlah Ruas Tol Menuju Jakarta
Arab Saudi Tegaskan Keamanan Domestik Kondusif, Indonesia Siapkan Skenario Cadangan untuk Haji