MURIANETWORK.COM - Aktivitas investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (6 Februari 2026) menunjukkan sinyal akumulasi, dengan fokus utama pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Meski mencatat pembelian bersih harian yang signifikan, secara keseluruhan pekan dan tahun berjalan, modal asing masih tercatat keluar dari pasar modal Indonesia, seiring dengan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Sentimen Harian Positif di Tengah Tekanan Pekanan
Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, investor asing mencatat aksi beli bersih (net buy) senilai Rp944,31 miliar. Yang menarik, mayoritas aliran dana tersebut sekitar 72 persen atau setara Rp680 miliar terserap oleh saham emiten perbankan pelat merah itu. Langkah ini mengindikasikan adanya kepercayaan selektif terhadap instrumen tertentu di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Namun, sorotan pada satu hari perdagangan tidak serta-merta mencerminkan tren keseluruhan. Jika dilihat dari rentang waktu yang lebih panjang, tekanan jual masih dominan. Sepanjang pekan tanggal 2-6 Februari 2026, investor asing masih mencatatkan pelepasan bersih (net sell) sebesar Rp1,14 triliun. Bahkan, akumulasi net sell sejak awal tahun telah mencapai angka Rp11,02 triliun.
IHSG Tertekan dan Respons Pihak Bursa
Tekanan jual yang berkelanjutan tersebut turut berdampak pada pergerakan indeks. Dalam sepekan, IHSG terkoreksi cukup dalam sebesar 4,69 persen ke level 7.935. Pelemahan ini secara otomatis mengurangi nilai kapitalisasi pasar BEI menjadi Rp14.341 triliun, turun dari posisi pekan sebelumnya di Rp15.046 triliun.
Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan BEI, Alit Nityaryana, mengonfirmasi data tersebut. Dalam keterangan resminya, ia merinci pergerakan modal asing.
Artikel Terkait
Kemenhub Wajibkan Sopir Cadangan dan Aturan Istirahat Ketat untuk Antisipasi Kecelakaan Arus Balik
PT Merdeka Gold Ajukan IPO di Hong Kong di Tengah Peningkatan Produksi dan Kerugian Membengkak
Harga CPO Melemah Tipis di Tengah Pergerakan Minyak Nabati yang Beragam
Harga Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Turun Rp80.000 per Gram